Pagi itu, Umma berjalan sambil memegang si kecil menuju kursi yang sudah disiapkan sekolah untuk orang tua menemui wali kelas masing-masing. Lalu si kakak yang mengikuti dari belakang berbisik.
"Ummi, apakah Ummi akan marah kalau nilai Aku kurang?" dia tanya dengan mata berkaca-kaca.
Umma cuma bisa tersenyum. Tapi dalam hati, Umma juga deg-degan.
Beberapa menit kemudian, guru memanggil: "Ummu Maryam, silakan ambil rapor."
Umma berjalan ke meja guru. Di tangan guru, ada lembaran kertas rapor. Ada nilai yang bagus. Ada juga yang kurang. Matematika 50. IPA 70 dan Bahasa Indonesia 90.
Maryam menunduk, karena takut umma marah. Tetapi di momen itu, Umma sadar: ini bukan tentang angka. Ini tentang bagaimana Umma merespons.
Dari 3 anak yang sudah masuk sekolah Dasar bahkan si abang sudah mau masuk sekolah SMP atau Pondok Pesantren. Umma belajar banyak hal baik dari pengamatan, diskusi dengan ummahat lain bahkan pengalaman diri sendiri mengenai cara merespon hasil belajar anak saat pengambilan raport.
5 Cara Orang Tua Merespon Laporan Hasil Belajar Anak di Sekolah
1. Jangan Marah. Tarik Napas Dulu
Saat lihat nilai kurang, pertama yang Umma lakukan adalah tarik napas.
Bukan langsung: "Ya ampun, kenapa nilainya kurang?!"
Kenapa?
Karena dalam Islam, marah adalah musuh, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Janganlah kamu marah, maka kamu akan mendapatkan surga." (HR. Ahmad)
Cara Orang Tua Merespon Sebaiknya:
Tarik napas 3x (dalam-dalam)
Ingat: "Ini evaluasi, bukan hukuman"
Doa: "Ya Allah, berikan saya ketenangan"
Kata-kata yang sebaiknya digunakan orang. tua :
"Nak, ummi lihat ada nilai yang kurang. Tapi ummi tidak marah. Ummi cuma ingin tahu, kenapa nilainya kurang? Ada yang susah?"
Anak Umma langsung rileks. Dia bilang: "Matematika susah, Ummi. Aku tidak paham."
Nah, sekarang Umma tahu solusi: nanti kita belajar bersama! Atau nanti kita bahas lagi.
2. Tanya Anak: "Kenapa Nilai Ini Kurang?"
Kedua, setelah tarik napas, tanya anak dengan lembut.
Jangan: "Kenapa nilai kamu kurang?! Kamu tidak belajar kan?"
Tapi: "Nak, Ummi ingin tahu. Kenapa nilai matematika kurang? Ada yang susah?"
Kenapa tanya?
Karena dalam Islam, mengetahui akar masalah adalah bagian dari solusi. Allah berfirman:
"Dan apabila kamu memegang hukum, maka hendaklah kamu memutuskan dengan adil."* (QS. An-Nisa: 58)
"Berbuat adil" = tahu fakta dulu, baru putuskan.
Pertanyaan yang sebaiknya dipakai orang tua:
Apa yang susah di matematika?
Kapan terakhir kamu belajar matematika?
Apakah kamu paham di kelas?
Apakah ada yang mengganggu saat belajar?
Dari tanya ini, kita bisa tahu:
Anak tidak paham konsep pembagian
Anak jarang belajar karena main gadget
Anak tidak aktif di kelas
Nah, sekarang kita jadi punya 3 target perbaikan!
3. Reward untuk Nilai Bagus: Berikan Apresiasi
Ketiga, untuk nilai yang bagus, berikan reward.
Misal anak-anak mendapat nilai:
Bahasa Indonesia: 90 ✅
Hafalan Quran: 5 juz ✅
Akhlak: Sangat Baik ✅
Reward yang Orang Tua berikan:
Reward kecil: Main ke taman 1 jam
Reward medium: Beli buku cerita islami yang dia mau
Reward besar: Liburan ke pantai (untuk target 3 bulan)
Kenapa reward?
Karena dalam Islam, memuji kebaikan adalah bagian dari sunnah. Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa yang tidak terima kasih orang lain, maka dia tidak terima kasih Allah." (HR. Tirmidzi)
"Terima kasih" = apresiasi kebaikan.
Kata-kata yang bisa dipakai:
"Nak, Ummi senang! Nilai Hafalan Quran kamu 90. Ummi tahu kamu belajar keras. Ayo, Ummi beli buku yang kamu mau!"*
Anak senang. Dia jadi untuk belajar lebih keras lagi!
4. Nasehat untuk Nilai Kurang: Based on Quran & Sunnah
Keempat, untuk nilai yang kurang, berikan nasehat based on Quran & Sunnah.
Bukan: "Kamu harus belajar lebih keras! Jangan main gadget!"
Tapi:
Nasehat 1: tentang Belajar
"Hai anakku, Allah berfirman: 'Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, " At Thalaq 2).
"Belajar adalah ibadah. Kalau kamu belajar, kamu dekat dengan Allah."
Nasehat 2: tentang Kesabaran
"Hai anakku, Rasulullah bersabda: 'Tidaklah seorang muslim menderita sesuatu kesulitan, kecuali Allah menghapuskan kesulitan-kesulitan itu.' (HR. Bukhari)"
"Nilai kurang itu kesulitan. Kalau kamu sabar dan belajar, Allah akan hapus kesulitan kamu."*
Nasehat 3: tentang Usaha
*"Hai anakku, Allah berfirman: 'Sesungguhnya Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.' (QS. Ar Rad: 11)".
"Kalau kamu ingin nilai bagus, kamu harus mengubah: belajar lebih keras. Allah akan mengubah nilai kamu."
Kata-kata yang Orang Tua Pakai:
"Nak, Ummi tahu nilai matematika kurang. Tapi Ummi tidak marah. Ummi cuma ingin kamu tahu: belajar adalah ibadah. Kalau kamu belajar, Allah dekat dengan kamu. Ayo, nanti Umma belajar bersama!"*
Anak kita jadi paham dan termotivasi!
5. Buat Rencana Bersama: Belajar + Ibadah
Kelima, setelah reward + nasehat, buat rencana bersama.
Bukan: "Nanti kamu harus belajar 2 jam/hari!"
Tapi: "Nak, kita buat rencana bersama, ya. Kamu mau belajar berapa jam?"
Rencana yang bisa dibuat oleh orang tua:
Senin, 19:00-20:00, Matematika, Paham pembagian
Rabu, 19:00-20:00, Matematika, Paham perkalian
Sabtu, 10:00-11:00, Hafalan Quran, 1 halaman/hari
Kenapa bersama?
Karena dalam Islam, musyawarah adalah bagian dari sunnah. Allah berfirman:
"... bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS Ali Imran 159) .
"Bermusyawarah" = bersama membuat keputusan.
Kata-kata yang Bisa Orang Tua Pakai:
"Nak, kita buat rencana bersama, ya. Kamu mau belajar berapa jam? Matematika atau IPA dulu? Umma ikut belajar, ya!"
Anak Umma bilang: *"Aku mau belajar Senin-Rabu-Sabtu. Matematika dulu, Ummi."*
Nah, sekarang rencana sudah ada!
Kesimpulan: 5 Cara Orang Tua Muslim Bersikap
Jadi, 5 cara orang tua muslim bersikap saat ambil hasil belajar anak adalah:
Satu: Jangan marah. Tarik napas dulu.
Prinsip: Marah adalah musuh (HR. Ahmad)
Dua: Tanya anak: "Kenapa nilai ini kurang?"
Prinsip: Berbuat adil = tahu fakta (QS. An-Nisa: 58)
Tiga: Reward untuk nilai bagus: apresiasi
Prinsip: Terima kasih = apresiasi kebaikan (HR. Tirmidzi)
Empat: Nasehat untuk nilai kurang: based on Quran & Sunnah
Prinsip: Belajar adalah ibadah (QS. Al-Baqarah: 286)
Lima: Buat rencana bersama: belajar + ibadah
Prinsip: Musyawarah = bersama (QS Ali Imran 159)
Prinsip Parenting Islami:
"Orang tua yang baik adalah yang tidak marah saat lihat nilai kurang, tapi tanya akar masalah. Yang apresiasi nilai bagus, tapi beri nasehat untuk nilai kurang. Dan yang bersama membuat rencana, karena musyawarah adalah sunnah."*
FAQ: Pertanyaan Sering Ditanyakan
Apakah boleh marahkan anak saat nilai kurang?
Tidak! Marah membuat anak trauma. Rasulullah bersabda: "Janganlah kamu marah, maka kamu akan mendapatkan surga."* (HR. Ahmad)
Apakah reward harus mahal?
Tidak! Reward kecil seperti main ke taman, beli buku, atau pujian juga sudah cukup.
Apakah nasehat harus dari Quran & Sunnah?
Ya! Nasehat based on Quran & Sunnah lebih kuat dan bermakna untuk anak muslim.
Apakah rencana harus ketat?
Tidak! Rencana fleksibel, biar anak tidak stres. Cukup 3x/minggu, 1 jam/hari.
Semangats! 5 cara ini bisa jadi acuan semua orang tua muslim untuk merespons hasil belajar anak dengan cara yang ringan, lembut, dan based on Quran & Sunnah! Ayo siapa yang sudah menerapkan strategi ini atau ada stategis tambahan yang dilakukan saat menerima hasil belajar anak? Yuk sharing di kolom komentar dan jangan lupa bagikan artikel ini ya.


Posting Komentar