Siapa yang pernah merasa lelah jadi istri yang harus selalu sabar, melayani, dan menuruti suami. Di pagi hari, istri sudah harus bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan, mengurus anak, membersihkan rumah, lalu menunggu suami pulang kerja dengan harapan bisa sedikit istirahat. Tapi begitu suami pulang, harus kembali melayani: menyiapkan makan malam, mendengarkan keluh kesahnya, menenangkan hatinya, dan tetap tersenyum meski badan sudah capek dan hati sedang ingin menangis.
Lalu pernahkah kita sebagai istri berpikir, “Apakah ketaatan sebagai istri itu berarti aku harus menghilangkan diriku sendiri? Haruskah aku tidak punya pendapat, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan tidak boleh merasa lelah?”
Tapi perlahan dengan berjalannya waktu dan atas izin Allah, banyak dari kita sebagai istri belajar dari kajian dan dari pengalaman, bahwa ketaatan sebagai istri bukan berarti kehilangan diri. Ketaatan itu adalah bentuk ibadah yang penuh cinta, bukan sekadar kewajiban yang membebani. Dan ternyata, ketika kita sebagai istri mulai memahami ketaatan dengan benar, suami justru semakin sayang, rumah tangga terasa lebih tenang, dan istri pun merasa lebih tenang dan bahagia. Umma yakin banyak dari kita mengalami pergulatan batin seperti ini kemudian menemukan berbagai hikmah dibaliknya.
Nah di artikel Umma kali ini, Umma ingin berbagi pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana menjadi istri yang taat, tapi tetap punya ruang untuk diri sendiri, tetap bisa menuntut ilmu, dan tetap bisa menjadi pribadi yang utuh.
Masalah yang Sering Dialami Istri
Sebelum masuk ke solusi, Umma ingin bercerita dulu tentang beberapa masalah yang sering kita sebagai istri alami,:
1. Merasa lelah karena harus selalu melayani
Ayo siapa yang pernah merasa seperti “mesin” yang harus terus bekerja: bangun pagi, masak, bersih-bersih, urus anak, urus suami, lalu malam hari masih harus menemani suami, mendengarkan ceritanya, dan menenangkan hatinya. Kadang, kita sebagai istri merasa tidak punya waktu untuk istirahat, apalagi untuk diri sendiri.
Tahu nggak ternyata banyak lho para istri yang menangis diam-diam di kamar mandi, karena merasa lelah sekali, tapi tidak bisa mengeluh. Banyak dari kita merasa takut dianggap tidak sabar atau tidak taat.
2. Takut dianggap lemah atau tidak punya pendapat
Begitupun banyak para istri yang takut kalau terlalu menurut, suami akan menganggap lemah atau tidak punya pendapat. Banyak istri ingin tetap bisa menyampaikan pendapat, tapi juga tidak ingin terlihat keras atau tidak taat.
Bingung: bagaimana caranya taat, tapi tetap bisa menyampaikan kebutuhan dan pendapat dengan cara yang baik?
3. Sulit menyeimbangkan ketaatan dan kebutuhan pribadi
Banyak istri ingin menjadi istri yang taat, tapi juga ingin punya waktu untuk diri sendiri: untuk istirahat, untuk menuntut ilmu, untuk ibadah, dan untuk sekadar duduk tenang tanpa diganggu anak atau suami.
Tapi kadang, kita merasa bersalah kalau mengambil waktu untuk diri sendiri. Takut dianggap tidak melayani suami dengan baik.
Dasar dari Al-Qur’an & Sunnah Tentang Ketaatan Istri
Sebelum mencari solusi, penting untuk kembali ke dasar: apa yang diajarkan Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ tentang ketaatan istri?
1. Ayat tentang hak suami dan kewajiban istri
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنَ الْآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke tubuh mereka.’ Yang demikian itu lebih memungkinkan mereka untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah). Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Maha Mengenal.” (QS. al-Ahzab: 32–34)
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan kewajiban istri: taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetap di rumah, menjaga diri, dan mendidik keluarga dengan ilmu.
Allah juga berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahi harta mereka. Maka wanita yang shalihah adalah yang taat (qanitat) kepada Allah, dan menjaga diri (hafizhatun lil ghaib) ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Adapun wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. an-Nisa: 34)
Dari ayat ini, kita paham bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan istri yang shalihah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri serta harta suaminya.
2. Hadits tentang istri yang baik
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النِّسَاءِ أَحْسَنُهُنَّ خُلُقًا، وَأَحْسَنُهُنَّ خُلُقًا أَحْسَنُهُنَّ لِزَوْجِهَا
“Sebaik-baik wanita adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik akhlaknya adalah yang paling baik kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kebaikan istri yang paling utama adalah kepada suaminya. Bukan karena dia tidak punya pendapat, tapi karena dia memiliki akhlak yang mulia: sabar, lembut, dan penuh kasih sayang.
3. Kisah istri-istri Rasulullah ﷺ
Istri-istri Nabi ﷺ adalah contoh nyata istri yang taat, tapi tetap punya kepribadian dan kelebihan masing-masing:
Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Sangat cerdas, banyak menuntut ilmu, sering berdiskusi dengan Rasulullah ﷺ, tapi tetap taat dan penuh hih kepada suaminya.
Khadijah radhiyallahu ‘anha
Istri pertama Rasulullah ﷺ, yang mendukung beliau di masa sulit, tapi tetap menjaga rumah tangga dengan penuh kelembutan.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
Istri yang bijak, banyak memberi nasihat kepada Rasulullah ﷺ, tapi tetap taat dan penuh penghormatan.
Dari kisah mereka, kita belajar bahwa ketaatan istri bukan berarti kehilangan diri. Mereka tetap punya pendapat, tetap menuntut ilmu, tetap punya kepribadian, tapi tetap taat kepada suami dalam hal yang ma’ruf?
Solusi Praktis: Menjadi Istri yang Taat, Tapi Tidak Kehilangan Diri
Berdasarkan rujukan dari Al-Qur’an, sunnah, dan kisah para salaf, kita sebagai istri harus mencoba menerapkan beberapa prinsip ini dalam kehidupan rumah tangga. Berikut solusi praktis yang bisa dicoba:
1. Pahami hak suami dengan benar
Suami sebagai pemimpin, bukan sebagai raja
Kita sebagai istri perlu memahami bahwa suami adalah pemimpin, bukan raja. Artinya, dia bertanggung jawab atas keluarga, tapi bukan berarti dia boleh bersikap semena-mena. Kita tetap bisa menyampaikan pendapat, asalkan dengan cara yang lembut dan penuh penghormatan.
Ketaatan dalam hal yang ma’ruf, bukan dalam maksiat
Kita sebagai istri juga perlu belajar bahwa ketaatan istri hanya dalam hal yang ma’ruf, bukan dalam maksiat. Jika suami menyuruh kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama, kita tidak wajib taat. Tapi jika itu dalam hal yang baik, istri berusaha taat dengan ikhlas.
2. Istri Yang Taat Ahli Bangun Komunikasi Yang Sehat.
Bicara dengan lembut saat ada masalah
Sebagai istri kita perlu belajar bahwa cara berbicara sangat menentukan. Jika marah, kita coba tenangkan hati dulu, lalu bicara dengan lembut. Kita jangan langsung menyalahkan, tapi sampaikan perasaan dengan cara yang tidak menyakiti dan tentu saja tunggu waktu yang tepat.
Contoh: Jika kita melihat suami sudah dalam. keadaan tenang dan hilang dari lelahnya kita bisa berkata “Zauj, ana merasa lelah hari ini. Boleh ana istirahat sebentar sebelum menyiapkan makan malam? Ana tetap ingin melayani, tapi ana butuh waktu untuk pulih dulu sejenak.”
Sampaikan kebutuhan pribadi dengan cara yang tidak menyalahkan
Istri juga harus belajar untuk menyampaikan kebutuhan dengan cara yang tidak menyalahkan. Misalnya, ana ingin waktu untuk menuntut ilmu, sampaikan dengan cara yang positif:
“Zauj, ana ingin ikut kajian online seminggu sekali. Ana yakin ini akan membantu ana menjadi istri dan ibu yang lebih baik. Boleh ana minta waktu 1–2 jam saja untuk itu?”
3. Layani Suami dengan ikhlas, bukan karena takut
Niatkan sebagai ibadah, bukan sekadar kewajiban
Istri harus belajar bahwa setiap pelayanan kepada suami adalah ibadah. Menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mendengarkan keluh kesahnya, semua itu bisa menjadi amal shalih jika diniatkan untuk mencari ridha Allah.
Cari waktu yang tepat untuk melayani, tanpa mengabaikan kesehatan diri
Istri juga perlu belajar untuk tidak memaksakan diri. Jika badan sedang sakit atau sangat lelah, berusahalah jujur kepada suami, tapi tetap berusaha melayani dengan cara yang sesuai kondisi.
Contoh: “Zauj, ana sedang kurang enak badan. Boleh ana istirahat sebentar dulu, lalu ana bisa menyiapkan makan malam setelah badan terasa lebih baik?”
4. Jaga hati & ruang pribadi
Tetap punya waktu untuk diri sendiri
Seorang istri perlu meyakini bahwa mereka tetap butuh waktu untuk diri sendiri: untuk istirahat, untuk menuntut ilmu, untuk ibadah, dan untuk sekadar duduk tenang. Usahakan untuk mengatur waktu minimal: 10–15 menit setiap hari untuk membaca buku, mendengarkan kajian, atau sekadar berdzikir.
Jangan sampai ketaatan justru membuat hati keras atau dendam
Istri juga perlu belajar untuk menjaga hati. Jika merasa lelah atau kesal, segera beristighfar, meminta maaf, dan memperbaiki niat. Jangan sampai ketaatan kita sebagai istri justru membuat hati keras atau dendam kepada suami.
Penutup: Kita Semua Sedang Belajar Menjadi Istri Yang Taat Pada Suami
Kita bukan istri sempurna, tapi kita sedang belajar. Kita ingin menjadi istri yang taat, tapi tetap punya hati yang lembut, tetap bisa menuntut ilmu, dan tetap punya ruang untuk tumbuh sebagai pribadi.
Kita sebagai istri belajar bahwa ketaatan sebagai istri bukan berarti harus menghilangkan diri kita sendiri. Ketaatan itu adalah bentuk ibadah yang penuh cinta, bukan sekadar kewajiban yang membebani. Dan ternyata, ketika kita mulai memahami ketaatan dengan benar, suami justru semakin sayang, rumah tangga terasa lebih tenang, dan istri pun merasa lebih tenang dan bahagia.
Apa tantangan Sahabat Umma sebagai istri? Cerita di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi bahan renungan kita bersama. Semoga Allah mudahkan kita semua menjadi istri yang shalihah, istri yang taat, dan istri yang menyenangkan suami ya dan begitu pun sebaliknya menjadi suami yang bisa menyenangkan istri. Tentu saja itu semua tidak didapatkan secara instan tetapi dengan terus belajar.
Jangan lupa bagikan ya artikel ini kepada seluruh istri di dunia agar mereka tidak merasa sendiri. Sahabat Umma juga bisa baca bahasan Umma tentang Tips Mengatasi Ibu Rumah Tangga Kesepian ya. Terima kasih



Posting Komentar