Ganti Judul dan ALt sendiri

Ketika Terganggu dengan Orang Toxic, Apa yang Harus Dilakukan?

Toxic

Sahabat Umma, pernahkah suatu hari tiba-tiba dada terasa sesak tanpa sebab?

Padahal aktivitas berjalan biasa saja. Namun ada sesuatu yang mengganggu pikiran—sebuah ucapan, sikap, atau perlakuan dari seseorang yang sebenarnya dekat dengan kita.

Kadang itu datang dari keluarga sedarah: kakak, adik, sepupu, paman.

Terkadang dari keluarga yang hadir karena pernikahan: ipar, mertua, atau besan.

Ada pula yang muncul dari lingkungan kerja: atasan, rekan kerja, atau bawahan.

Atau bahkan dari masyarakat s7ekitar: tetangga, teman majelis, komunitas.

Mereka menampilkan sifat yang membuat hati kita terganggu:

  • Mengabaikan pesan kita walau mereka aktif di WA.
  • Bersikap manis di luar, dingin kepada keluarga sendiri.
  • Tidak menghargai yang lebih tua.
  • Merendahkan tanpa sebab.
  • Berkata kasar tanpa memikirkan perasaan.
  • Menganggap diri paling benar dan paling penting.

Kadang kita mencoba lembut, mencoba sabar, mencoba menahan diri.

Tetapi tetap saja luka itu terasa.

Sahabat Umma mungkin berkata dalam hati:

 “Kenapa sih, orang terdekat yang seharusnya suportif justru yang menyakiti?”

 “Kenapa keluarga ipar lebih hangat ke teman daripada ke keluarga sendiri?”

 “Kenapa rekan kerja tega menjatuhkan?”

 “Kenapa tetangga suka menggosip?”

Tenang…

Bukan hanya Sahabat Umma yang merasa begitu.

Fenomena toxic ini sudah lama ada, dan Islam telah memberi panduan lengkap untuk menjalaninya dengan hati yang kuat dan tetap dalam adab.

Mari kita telusuri satu per satu yuk! 

Apa Itu Orang Toxic dalam Sudut Pandang Islam?

“Toxic” sebenarnya adalah istilah modern untuk menggambarkan seseorang yang perilakunya merusak ketenangan, kesehatan mental, atau hubungan.

Dalam Islam, perilaku toxic termasuk dalam kategori akhlak buruk.

Ciri-cirinya antara lain:

  •  mudah merendahkan orang,
  •  mengabaikan komunikasi yang seharusnya dijaga,
  • kasar, cuek, atau egois,
  • iri hati dan dengki,
  • sering membuat orang tidak nyaman,
  • manipulatif,
  • memutus atau menghindari silaturahmi,
  • bergosip, mengadu domba, atau memfitnah.

Perilaku toxic bukan tentang “jenis hubungan” (darah atau bukan), melainkan kondisi hati seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi)

Semakin toxic perilakunya, semakin jauh dia dari akhlak mulia.

Mengapa Ada Orang Toxic?

Islam menjelaskan bahwa akhlak seseorang terbentuk dari:

🧠 1. Hati yang Belum Bersih (Qalb yang Sakit)

Dalam Islam, hati adalah pusat seluruh perilaku. Ketika hati dipenuhi penyakit—seperti riya, dengki, sombong, atau dendam—perilaku pun ikut rusak.

Tanda-tanda hati yang sakit menurut ulama:

* Sulit menerima nasihat.

* Senang melihat orang lain gagal.

* Mudah marah dan tersinggung.

* Tidak bahagia atas keberhasilan orang lain.

Mengapa kemudian orang menjadi toxic?

Karena kondisi hati memengaruhi cara mereka menilai dan merespons keadaan. Hati yang keruh membuat seseorang:

  • Menilai Negatif Apa Pun,
  • Merespons Dengan Kasar Atau Menyakitkan,
  • Menutupi Rasa Kurang Diri Dengan Merendahkan Orang Lain.

Ini selaras dengan hadis Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa semua perilaku berawal dari hati.

🩹 2. Luka Batin Masa Lalu (Trauma yang Tidak Terselesaikan)

Dalam psikologi, perilaku toxic sering berasal dari trauma yang tidak disembuhkan: penolakan, pengabaian, kekerasan verbal/fisik, atau kegagalan berat.

Luka ini kemudian muncul dalam bentuk:

* defensif berlebihan,

* mudah tersinggung,

* mengontrol orang lain,

* manipulatif,

* marah tak terarah.

Islam pun mengakui pengaruh masa lalu dan kondisi kejiwaan seseorang—sehingga kita diajarkan untuk tidak menghakimi tanpa mengetahui sebab.

📚 3. Minim Adab dan Ilmu Agama

Akhlak mulia lahir dari ilmu + latihan + keteladanan. Ketika seseorang tidak memiliki ilmu agama yang cukup—atau tahu tetapi tidak mengamalkannya—maka perilaku buruk menjadi hal yang biasa.

Kurang ilmu agama sering membuat seseorang:

* tidak paham batasan berinteraksi,

* tidak mengerti hak-hak orang lain,

* tidak mengerti dosa ghibah, fitnah, atau merendahkan orang lain,

* mengejar dunia sehingga membenarkan cara yang salah

Orang yang tidak kenal adab akan mudah menjadi:

* merendahkan orang,

* kasar,

* tidak bisa menjaga lisan,

* tidak menghargai sesama.

4. Iri, Dengki, dan Gengsi

Ini adalah penyakit hati paling destruktif dalam Islam.

Iri dan dengki membuat seseorang:

* menganggap keberhasilan orang lain sebagai ancaman,

* berusaha menjatuhkan orang lain,

* menyinggung atau mengecilkan pencapaian seseorang,

* mengkritik bukan karena peduli, tetapi karena tidak suka melihat orang lain bahagia.

Gengsi membuat mereka:

* tidak mau salah,

* tidak mau minta maaf,

* tetap mempertahankan perilaku toxic demi harga diri palsu.

Ibnu Qayyim menyebut dengki sebagai penyakit yang:

“Tidak memberi manfaat bagi pelakunya kecuali kerugian.”

🧩 5. Kurangnya Kedewasaan Emosional

Dewasa bukan soal umur, melainkan kemampuan mengelola emosi.

Ciri orang yang belum dewasa secara emosional:

  • Reaktif, Bukan Responsif,
  • Melampiaskan Stres Pada Orang Lain,
  • Tidak Mam3pu Mengendalikan Marah,
  • Tidak Bisa Introspeksi,
  • Selalu Menyalahkan Orang Lain,
  • Tidak Mau Bertanggung Jawab.

Karena tidak mampu mengatur emosi, mereka cenderung:

  • Menyakiti
  • Memanipulasi,
  • Meremehkan,
  • Meluapkan Ketidakstabilan Ke Orang Sekitar.

🌍 6. Lingkungan yang Membentuknya

Karakter seseorang banyak dipengaruhi oleh tempat ia tumbuh dan bergaul. 

Pengaruh lingkungan:

Keluarga keras → menjadi keras pada orang lain.

Lingkungan penuh gosip→ normalisasi perilaku toxic.

Teman yang buruk → akhlak ikut rusak (hadis: “Agama seseorang tergantung agama temannya”).

Kantor kompetitif tidak sehat → membentuk sifat manipulatif dan tidak jujur.

Masyarakat permisif terhadap perilaku buruk → perilaku toxic dianggap lumrah.

Islam menekankan pentingnya lingkungan karena pengaruhnya luar biasa kuat. Bahkan, pemilihan sahabat yang baik adalah bagian dari iman.

Orang toxic tidak tiba-tiba muncul.

Mereka terbentuk dari:

  • Hati Yang Belum Bersih,
  • Luka Yang Belum Sembuh,
  • Minim Adab Dan Ilmu Agama,
  • Penyakit Hati,
  • Ketidakdewasaan Emosi,
  • Pengaruh Lingkungan.

Memahami sebabnya bukan untuk membenarkan perilaku toxic, tapi agar kita:

1. Lebih bijak menghadapinya,

2.Tidak mudah menghakimi,

3. Dan yang terpenting: tidak menjadi bagian dari mereka.

Toxic dalam Keluarga (Darah & Pernikahan

Inilah tempat paling sering terjadi karena hubungan emosional yang lebih dekat.

Contoh toxic dalam keluarga:

1. Tidak menghargai yang lebih tua atau lebih muda

Walau bukan sedarah (seperti istri adik ipar atau saudara pasangan), adab tetap harus dijaga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.”

2. Tidak membalas pesan atau mengabaikan komunikasi

Seakan ingin memutus hubungan.

Allah mengingatkan:

“…mereka memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan…” (QS. Muhammad: 22–23)

3. Bersikap baik pada orang lain, tetapi dingin pada keluarga sendiri

Ini sangat umum terjadi.

Di luar mereka ramah, tapi keluarga diperlakukan bagai angin lalu.

4. Membandingkan, menghakimi, dan meremehkan

Padahal Allah membenci perbuatan merendahkan.

Toxic di Tempat Kerja

Dunia kerja penuh dinamika. Tanpa adab, ia menjadi tempat toxic berkembang.

Contoh:

1. Atasan yang kasar. Hanya menyuruh, tidak menghargai bawahan.

2. Rekan kerja yang manipulatif. Mengambil kredit hasil kerja kita.

3. Budaya persaingan tidak sehat. Menjatuhkan demi naik jabatan.

4. Lingkungan gosip

Ini termasuk dosa besar yang merusak hubungan.

Allah berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Toxic di Masyarakat

Toxic juga hidup di lingkungan sosial: 

 Orang-orang

“Seorang Muslim adalah saudara : Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.” (HR. Bukhari)

Namun realitanya, toxic sering muncul justru dari masyarakat sekitar.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Menghadapi Orang Toxic?

Islam mengajarkan cara terbaik menghadapi toxic dengan tetap menjaga diri dan iman.

1. Tetap Jaga Adab (Kunci Utama)

Walau mereka buruk, kita tetap menjaga:

  • ucapan,
  • respons,
  • sopan santun,
  • dan emosi.

Karena adab bukan untuk mereka, tetapi untuk Allah. 

2. Tetapkan Batasan Sehat (Set Boundaries)

Menjaga jarak dibolehkan dalam Islam selama tidak memutus silaturahmi.

Contoh batasan:

  •  tidak perlu membalas seluruh drama,
  • tidak perlu ikut dalam obrolan negatif,
  •  batasi intensitas komunikasi,
  • temui seperlunya.

Ini bukan benci, tetapi menjaga diri. 

3. Tidak Mengemis Perhatian

Jika keluarga atau teman tidak menghargai:

  • tidak pernah menyapa,
  • tidak membalas chat,
  • hanya baik ketika butuh,

maka kita tidak perlu memaksa kedekatan. 

Silaturahmi itu kewajiban, tetapi kualitas hubungan adalah pilihan.

4. Balas dengan Kebaikan, Namun Tidak Berlebihan

Allah berfirman:

“Balaslah kejahatan dengan cara yang lebih baik…” (QS. Fussilat: 34)

Tetapi ingat:

  • Kebaikan ≠ Membiarkan diri terluka terus menerus.
  • Kebaikan ≠ Tunduk pada ketidakadilan.
  • Kebaikan ≠ Menghilangkan batasan.

5. Berserah kepada Allah (Ikhlas)

Ikhlas berarti:

  • Melepaskan ekspektasi,
  • Menerima kenyataan,
  • Tidak menaruh harapan berlebihan pada manusia.

Allah berfirman:

“Cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu.” (QS. Al-Fath: 4)

6. Fokus pada Ketenangan Diri

Toxic adalah racun bagi hati.

Maka tugas kita adalah menjaga:

  • mental, 
  • emosi,
  • kesehatan jiwa,
  • dan ketentraman batin.

Allah membimbing:

“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

7. Doakan Mereka

Ini berat, tetapi inilah cara paling elegan dalam Islam. Mendoakan orang toxic bukan untuk mereka saja, tetapi untuk ketenangan hati kita sendiri.

Terima dengan Ikhlas, Jalani Hari Tanpa Menghiraukan Toxic

Toxic akan selalu ada, Sahabat Umma…

Di rumah, di kantor, di masyarakat.

Tetapi ketenangan kita ditentukan oleh sejauh mana kita tidak membiarkan toxic itu masuk ke hati.

Ikhlaskan…

Lepaskan…

Percayakan pada Allah…

Dan hidupkan hari-hari dengan fokus pada kebaikan yang bisa kita lakukan.

Karena pada akhirnya, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perilaku kita, bukan perilaku orang lain.

Penutup – Pesan untuk Sahabat Umma

Tidak semua keluarga itu hangat.

Tidak semua rekan kerja itu jujur.

Tidak semua masyarakat itu suportif.

Namun Sahabat Umma tetap bisa menjadi:

  • Hamba Allah yang baik,
  • Manusia yang beradab,
  • Jiwa yang tenang,
  • Dan pribadi yang Allah cintai.

Tugas kita bukan mengubah orang toxic.

Tugas kita menjaga diri agar tidak ikut menjadi toxic.

Yuk Sharing di Kolom Komentar! 

Sahabat Umma pernah menghadapi orang toxic?

Baik dari keluarga, kantor, atau masyarakat Bagikan kisahnya di kolom komentar…

Siapa tahu pengalaman Sahabat dapat menjadi kekuatan untuk yang lain. Jangan lupa bagikan juga ya artikel ini karena banyak orang-orang diluar sana yang sedang berjuang dengan toxic nya orang lain. Baca juga artikel . Me Time ala Ummahat, Rawat Hati, Rawat Diri dan Rawat Iman. 


‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar