Sudah hampir 12 tahun Umma tidak naik transportasi umum seperti busway atau sekarang lebih dikenal dengan Transjakarta. Banyak sekali perubahannya bahkan ada beberapa hal-hal yang umma anggap receh ternyata berakibat fatal. Apalagi dengan kondisi Umma yang mesti membawa 5 anak dengan rentang usia 3-12 tahun. Penasaran seperti apa sih pengalaman Umma dan pelajaran receh yang Umma dapatkan pertama kali naik bus Transjakarta? Yuk sini Umma ceritain!
Apa Sih Transjakarta?
TransJakarta adalah nama sistem transportasi bus massal (Bus Rapid Transit/BRT) di Jakarta yang sudah beroperasi sejak 2004, sementara "busway" sering dipakai masyarakat untuk menyebut jalur khususnya atau secara umum untuk bus-bus ini. Cuma saat ini orang juga banyak yang menyingkat jadi TJ.
Keduanya sama-sama merujuk pada layanan yang sama, tapi secara tepat, TransJakarta adalah nama resminya, dan busway adalah jalur eksklusif dengan pembatas yang dilalui bus BRT-nya.
Tahukah bahwa Transjakarta memiliki jaringan terpanjang di dunia (lebih dari 250 km) dengan 14 koridor utama, 252 halte, dan melayani jutaan penumpang harian menggunakan bus ber-AC. Layanan utamanya termasuk BRT (dengan jalur khusus), Non-BRT (jalur umum), serta varian seperti RoyalTrans atau Mikrotrans. Tarif tetap murah (Rp3.500 per trip) dan saat ini banyak koridor beroperasi 24 jam. (Meskipun belum semuanya, bisa dilihat di situs resmi mereka).
Kabar gembiranya kita bisa mengetahui keberadaan Bus Transjakarta melalui online sehingga menghemat waktu kita menunggu.
Hal-Hal Receh Tapi Penting Saat Pertama Kali Naik Transjakarta Dengan Banyak Anak
1. Saldo Minimum di Kartu Rp. 5000
Pengalaman Umma bareng anak-anak tidak mengetahui bahwa saldo minimal yang harus ada di kartu elektronik adalah sebesar Rp. 5000 jadi emak tenang dan merasa cukup saat menaiki bus. Padahal saldo saat itu hanya Rp. 4100. Umma pikir akan cukup satu kali perjalanan hanya Rp. 3.500.
Saat masuk ke bus setelah pintu dibuka tanpa ragu anak-anak tap satu persatu menggunakan kartu yang sudah dipegang masing-masing. Tetapi selalu tidak berhasil, tdaripada Umma mengganggu yang lain dari 5 kartu satu kartu tidak berhasil di tap in. Umma duduk saja sambil mikir, mungkin sistem error kali. Akhirnya saampailah Umma di tujuan akhir dan si bujang sebagai tap out tapi tetap sama tidak bisa. Akhirnya kami turun saja karena takut kelamaan dan bersyukurnya satu kartu. (Semoga diikhlaskan anak umur 4 tahh naik busway tanpa bayar).
2. Pastikan Sudah Paham Dengan Jalur Khusus (BRT) dan Umum (Non BRT)
Jadi sekarang itu banyak banget ya istilah saat menggunakan transportasi umum salah satunya bus transjakarta. Banyak jalur dan banyak warna bus. Semua itu tanda masing-masing. Nah Umma awalnya tidak paham terkait BRT dan Non atau istilah Umma sendiri umum dan khusus. Khusus berarti bus memiliki jalur sendiri sementara umum sebaliknya tidak memiliki jalur sendiri dan bergabung dengan jalur kendaraan lainnya dj jalanan dan potensi macet lebih besar.
Tapi hal receh yang Umma tidak paham adalah warna biru ini melayani koridor utama/utama (Bus Rapid Transit/BRT) dengan jalur khusus, seperti Blok M–Kota atau Ragunan–Monas. Sementara orange berperan sebagai bus feeder (pengumpan) yang menghubungkan area permukiman atau perumahan dengan koridor utama. Stay istilah khusus dan umum.
Ceritanya Umma menaiki bus di terminal dan ada dua pilihan sebenarnya ada khusus dan umum. Karena Umma tidak paham akhirnya ana pilih saja yang masuk ke jalur khusus dan saat itu belum ada petugas. Umma dan anak-anak tap in masuk ke dalam sambil menunggu bus yang akan membawa kami ke tujuan awal sebelum menuju busway lain. Lama kami menunggu tapi tidak ada rute yang kami mau naiki. Sampai akhirnya Umma bertanya ke petugas terkait rute. Ternyata Umma salah rute dan harus keluar. Meskipun tidak kena charge saat tap out.
Pelajaran banget, suatu yang Umma anggap receh ternyata fatal juga akibatnya.
3. Tap In - Tap Out Penting Agar Kartu Tak Diblokir Sementara
Nah dasar Umma maunya praktis aja, saat kartu menolak tap out pada bus di jalur umum bukan koridor busway. Umma turun saja tanpa khawatir apa-apa. Kemudian menuju busway berikutnya di jalur khusus. Disinilah masalah tap in-tap out yang awalnya Umma pikir tap in dan tap out, bukan sekadar formalitas.Tapi benar-benar ngaruh ke saldo dan mempengaruhi perjalanan kita berikutnya.
Tap in dan tap out dipakai buat mencatat perjalanan kita dengan lebih akurat, termasuk kalau kita pindah koridor atau terusan ke moda lain dalam sistem JakLingko. Dengan data ini, sistem bisa menghitung tarif yang pas, bukan asal potong, dan operator punya gambaran nyata soal pola pergerakan penumpang buat perbaikan layanan ke depan.
Kalau Umma Lupa Tap Out Apa yang Terjadi? Sistem akan menganggap kita masih “di perjalanan”, jadi perjalanan itu belum ditutup dan kartu kita otomatis keblokir. Begitu kita tap in lagi di lain waktu, barulah tarif perjalanan yang sebelumnya belum selesai itu dipotong, dan ini bisa bikin saldo kita tiba-tiba berkurang lumayan banyak.
Akhirnya kartu Umma terblokir dan harus direset. Ketahuannya saat Umma mau masuk gate berikutnya. bahwa kartu yang keblokir tidak bisa dipakai masuk halte atau naik bus sebelum di-reset dulu lewat mesin di gate halte atau alat khusus di bus.
Proses reset ini sering bikin antrian, karena penumpang yang lupa tap out harus satu-satu dibantu petugas dulu sebelum bisa lanjut perjalanan. Berhubung penumpang lumayan padat dan Umma tidak mau antrian terganggu akhirnya Umma menepi dulu sementara anak-anak sudah masuk gate.
![]() |
| Kenangan saat pertama kali naik. Busway, duduk terlalu ke belakang, anak ketiduran dan kelewatan bus stop |
Si uni 5 tahun rewel banget karena mikir ditinggalin emaknya. Umma bersyukur petugasnya sangat kooperatif membantu dan memandu Umma untuk lewat pintu lainnya. Kemudian membantu untuk mereset kartu. Sebuah perjalanan panjang yang semestinya bisa dihindari. (Nyesek, sedikit tapi banyak bagusnya dapat ilmu).
4. Jangan Lamban Saat Turun Nanti Rugi Waktu dan Biaya
Wah ini cerita yang sedikit menyebalkan sekaligus jadi pengalaman berharga untuk umma dan anak-anak. Jadi cerita kita naik bus Non BRT dari rambutan ke pemberhentian terakhir Lebak Bulus. Cukup lama perjalanannya karrna macet akhirnya si uni ketiduran. Sampai di tujuan akhir, drama menangis dimulai karena terganggu tidurnya. Sementara kita duduk di kursi bagian belakang jadi butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke depan.
Dalam pikiran ini pemberhentian terakhir jadi mustahil bakal cepat. Akhirnya Umma gendong saja meskipun banyak penolakan dan ingin melanjutkan tidur. Umma harus menggendong dua anak sekaligus. Akhirnya anak-anak yang lain menunggu Umma. Kemudian kami menuju pintu yang masih terbuka. Anehnya si abang tetap. diam di tangga terakhir pada bagian belakang. Umma mikir karena masih antri keluar. Secara di depan abang ada satu orang yang masih berhenti. Tahukah apa yang terjadi, pintu tertutup dan bus berjalan tanpa pemberitahuan.
Akhirnya kami kelewatan dan harus berhenti fi bus stop berikutnya. Artinya kami akan kebingungan pastinya, karena ini perdana naik busway dan belum tahu wilayah ini. Tapi daripada tambah jauh akhirnya kami turun dengan drama si uni yang menangis dan abang yang marah-marah karena salah rute. (Umma masih sabar saja).
Setelah turun umma melihat tidak ada halte bus BRT sementara tujuan Umma, naik bus BRT setelah naik bus Non BRT. Di jalur ini hanya ada jalur non-BRT yang tidak terhubung dengan BRT. Meskipun bisa tapi harus beberapa kali naik turun dan harus berjalan di JPO. Terlalu merepotkan karena membawa banyak anak.
Mau naik angkot JakLingko juga sangat melelahkan dengan anak-anak karena harus tukar angkot dan melalui jalur macet. Akhirnya Umma memutuskan naik transportasi online saja. Niat awalnya ingin hemat biaya dengan naik bus malah jadi besar gara-gara salah turun. (Hal-hal tidak terduga yang terjadi akibat kurangnya sounding ke anak dan pengetahuan Umma terkait Transjakarta yang sangat minim)? Apalagi di bus non-BRT hanya ada sopir tanpa ada pendamping naik turun jadi hal ini sangat mudah terjadi apalagi bagi yang baru naik.
5. Ternyata Ada Tombol Stop Dan Charger
Sebenarnya anak-anak sudah bilang ada tombol stop dan charger hp ke Umma, tapi Umma nggak mudeng waktu itu. Bahkan tidak kepikiran sama sekali pas mau turun. Jadi ternyata sebelum kita mau turun atau karena yang turun terlalu ramai kita bisa pencet tombol stop itu lho. Jadi penting ya diperhatikan kalau kondisi tempat duduk kita terlalu jauh ke belakang saat kita mau turun bisa pencet tombol tersebut.
6. Naik di Tengah - Turun Di Depan
Sebenarnya trik ini sangat membantu lho jika kita baru pertama kali naik busway terutama yang non-BRT yang tidak ada petugas jaga di setiap halte. Dengan cara ini supir tahu kalau kita akan turun, apalagi kita yang membawa banyak anak akan sangat terbantu. Kalau bisa beritahu kepada supir kita turun dimana sehingga supir tidak cepat-cepat dalam menutup pintu padahal kita belum keluar.
Penutup: Kenali Transportasi Dan Banyak Bertanya
Sekian ya cerita Umma tentang hal-hal receh tapi penting untuk diperhatikan saat kita pertama kali naik bus Transjakarta bareng anak-anak. Saran Umma banyak cari informasi terkait transportasi tersebut, jangan segan bertanya dan usahakan untuk duduk di bangku terdepan sehingga mudah berkomunikasi dengan sopir terutama bus non-BRT. Pastikan saldo mencukupi dan selamat mencoba serunya naik bus transjakarta. Atau adalah cerita lain Sahabat Umma saat naik bus transjakarta atau bus lainnya yang bisa jadi pelajaran buat kita. Sharing ya di kolom komentar dan baca cerita Travelling Umma lainnya disini.



Posting Komentar