Kenapa Emak-Emak Suka Nonton Dracin?

 

Fenomena dracin viral di grup emak-emak. Simak kenapa emak-emak suka dracin, salah satunya kerinduan pada perlakuan suami seperti di dracin. Apakah hukumnya mubah? Bagaimana Islam memandang dan sikap emak-emak sesuai Quran dan Sunnah?

Baru-baru ini, ada fenomena menarik yang sedang hangat di grup WhatsApp, Facebook, hingga Instagram emak-emak: ketagihan pada dracin atau drama Cina pendek. Dulu, obrolan di grup biasanya tentang resep masakan, tips anak, atau promo diskon. Sekarang, justru rekomendasi episode dracin terbaru mendominasi.

Bahkan, unduhan aplikasi dracin di Asia Tenggara naik 120 persen di 2025. Ini bukan sekadar tren biasa, tapi fenomena budaya baru yang menyentuh hati banyak ibu rumah tangga. Fenomena ini menunjukkan bahwa dracin bukan hanya hiburan sesaat, tapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak emak-emak.

Kenapa Emak-emak Sampai Suka Dracin?

Format Singkat, Padat, Dan Mudah Dicerna

Dracin hadir dalam format satu menit per episode, dengan total puluhan episode yang bisa selesai dalam satu hingga dua jam. Bagi emak-emak yang sibuk mengurus rumah, anak, dan pekerjaan, ini sangat cocok. Tidak perlu waktu berjam-jam seperti drama Korea atau film panjang. Emak-emak bisa menonton sambil menanak nasi, menunggu anak tidur, atau di antara waktu masak.

Emosi Yang Dipadatkan, Cepat Baper

Alur dracin sangat cepat, konflik padat, dan emosi langsung meledak di setiap menit. Penonton mudah terbawa perasaan dari sakit hati, marah, hingga senang. Otak langsung melepaskan dopamin saat prediksi cerita benar, misalnya tokoh utama akhirnya bersatu, memberi rasa puas dan validasi. Inilah yang membuat penonton betah nonton sampai habis dan langsung mencari episode berikutnya.

Tidak Perlu Mikir Panjang

Dracin punya alur sederhana, sering absurd, dan endingnya mudah ditebak. Ini justru jadi daya tarik utama. Bagi emak-emak yang sudah lelah seharian, mereka butuh hiburan yang tidak butuh berpikir keras. Cukup duduk, scroll, dan nikmati. Banyak yang bilang dracin kadang aneh dan tidak realistis, tapi justru itulah yang bikin rileks.

Kerinduan Pada Perlakuan Suami Seperti Di Dracin, Penyebab Emosional Yang Mendalam

Dan inilah yang sering tidak disadari: banyak emak-emak jatuh cinta pada dracin karena kerinduan pada perlakuan suami yang mirip tokoh dracin. Di dracin, tokoh pria biasanya sangat perhatian, protektif, dan sayang berlebihan. Mereka rela berkorban, bahkan mengorbankan segalanya untuk wanita yang dicinta, mengucapkan kata-kata romantis, selalu memberi hadiah, dan mesra.

Di realita, banyak suami sudah lelah bekerja, kurang ekspresif, atau bahkan sudah tidak ada romantis seperti dulu. Emak-emak merasa kehilangan validasi emosional. Saat menonton dracin, mereka merasa dilihat, dihargai, dan dicintai seperti tokoh utama. Ini bukan sekadar hiburan, tapi pelarian emosional dari kerinduan yang tidak terpuaskan di rumah. Banyak emak-emak yang diam-diam mengaku, setelah nonton dracin jadi makin rindu kalau suami bisa sayang seperti itu.

Bagaimana Islam Memandang Dracin? Apakah Benar Hukumnya Mubah?

Dalam Islam, tidak ada larangan spesifik dalam Al-Qur'an atau hadis tentang menonton dracin, drakor, atau drama apa pun. Hukum asalnya adalah mubah, artinya boleh, selama tidak melanggar syarat-syarat tertentu. Namun, penting untuk memahami bahwa mubah ini bukan berarti tanpa batas, tapi tergantung pada konten dan dampak yang ditimbulkan.

Para ulama membedakan menjadi beberapa kondisi. Pertama, jika dracin tidak mengandung maksiat seperti zina, kata-kata kasar, syirik, atau nilai yang bertentangan dengan syariat, maka hukumnya mubah. Ini karena tidak ada larangan langsung dalam syariat. Kedua, jika menonton dracin tidak melupakan ibadah seperti sholat, tugas rumah, atau pengasuhan anak, maka masih dalam kategori boleh, tapi jangan berlebihan. Ketiga, jika dracin mengandung nilai positif seperti motivasi, hikmah kehidupan, atau pelajaran baik, maka bisa berpahala jika niatnya menuntut ilmu hikmah.

Namun, jika dracin mengandung maksiat seperti zina, roman berlebihan yang mengajak pada keinginan terlarang, atau nilai yang merusak akidah, maka hukumnya haram. Ini karena meniru maksiat dan bisa merusak hati serta akidah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa jika menonton dracin berlebihan sampai melalaikan kewajiban, maka hukumnya berubah menjadi makruh bahkan haram karena meninggalkan yang lebih wajib.


Jadi, jawaban singkatnya: benar hukumnya mubah menonton dracin, tapi dengan syarat**. Syaratnya adalah tidak mengandung maksiat, tidak melupakan ibadah, dan tidak berlebihan. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, hukumnya bisa berubah menjadi haram. Ini penting untuk dipahami agar tidak asal nonton tanpa mempertimbangkan konten. Lalu pertanyaannya adakah dracin yang seperti itu? 


Apa Sikap Emak-emak Seharusnya Sesuai Quran Dan Sunnah Menghadapi Fenomena Ini?

Pertama, tetap utamakan kewajiban. Allah berfirman dalam QS An-Nur ayat 45 bahwa janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Nonton dracin boleh, tapi jangan sampai melalaikan sholat, mengabaikan anak, atau rumah berantakan. Ibadah dan kewajiban keluarga harus tetap jadi prioritas utama.

Kedua, kontrol konten dengan memilih yang positif dan menghindari maksiat. Rasulullah mengajarkan bahwa barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibirnya dan dua kakiannya, maka dia dijamin masuk surga. Artinya, kita harus kontrol apa yang kita lihat dan dengar. Dracin yang mengandung zina, roman berlebihan, atau nilai tidak islami sebaiknya tidak dikonsumsi. Cari dracin yang ceritanya inspiratif, tidak banyak adegan maksiat, dan lebih bermakna.

Ketiga, jangan jadikan dracin sebagai pelarian emosional dari masalah rumah. Kembali ke suami dengan komunikasi yang baik. Jika dracin dikonsumsi karena kerinduan pada perlakuan suami, ini tanda ada kekosongan emosional di rumah. Komunikasikan dengan suami, katakan bahwa kamu butuh perhatian lebih dan rindu dia sayang seperti dulu. Jangan berharap suami seperti di dracin karena itu fiksi dan tidak realistis. Minta suami untuk lebih ekspresif, tapi dengan cara yang baik tanpa menyalahkan. Berikan juga kasih sayang ke suami karena suami juga butuh validasi. Kasih sayang harus dua arah.

Keempat, gunakan dracin sebagai sarana refleksi diri, bukan candu. Dracin bisa jadi cermin untuk evaluasi hubungan dengan suami. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang aku rindukan di dracin dan apakah itu yang aku butuhkan di rumah. Apakah aku terlalu sibuk nonton sampai lupa keluarga. Apakah hubungan aku dengan suami sudah baik. Jika ditanyakan dengan serius, dracin bisa jadi alat evaluasi diri yang bermanfaat, bukan sekadar candu yang membuat lupa.

Kelima, cari hiburan yang lebih bernilai islami sebagai alternatif. Selain dracin, emak-emak bisa menonton kajian islami di YouTube atau podcast, membaca buku islami yang positif, ikut komunitas positif seperti pengajian atau ibu-ibu dakwah, atau mengembangkan hobi produktif seperti kuliah online, menulis, atau cooking. Ini lebih bermakna untuk hati dan masa depan karena memberi nilai tambah dan tidak hanya sekadar hiburan kosong.

Dracin, Yes or No? 

Dracin memang menarik, cepat, dan memuaskan emosi. Banyak emak-emak suka karena format singkat, emosi padat, dan kerinduan pada perlakuan suami seperti di dracin. Islam tidak melarang, hukum asalnya mubah, tapi dengan syarat tidak mengandung maksiat, tidak melupakan ibadah, dan tidak berlebihan.

Sikap emak-emak seharusnya utamakan kewajiban, kontrol konten, komunikasi dengan suami , gunakan dracin untuk refleksi, dan lebih baik cari hiburan lebih bernilai islami. Yuk sharing di kolom komentar dan jangan lupa bagikan artikel ini ya. Semoga bermanfaat. 


‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar