Pernahkah Sahabat Umma membayangkan seperti apa rumah tangga yang ideal Rumah yang selalu rapi. Suami yang selalu memahami. Istri yang selalu sabar. Anak-anak yang selalu menurut. Tidak pernah ada pertengkaran dan semua masalah bisa diselesaikan dengan tenang. Indah sekali jika memang seperti itu.
Namun, kenyataannya rumah tangga adalah tempat berkumpulnya dua manusia dengan karakter, kebiasaan, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Ada hari ketika suami lelah. Ada hari ketika istri kehabisan tenaga. Ada masa ketika kondisi ekonomi terasa berat. Ada perbedaan pendapat. Ada perkataan yang mungkin disesali setelah diucapkan.
Karena itu, rumah tangga Islami bukanlah rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang ketika menghadapi masalah, suami dan istri berusaha kembali kepada Allah.
Sebab tujuan pernikahan bukan sekadar memiliki pasangan hidup, tetapi juga menjadi jalan untuk beribadah dan belajar menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Allah Menciptakan Pernikahan untuk Menghadirkan Ketenangan
Salah satu ayat yang sangat indah tentang pernikahan terdapat dalam QS. Ar-Rum ayat 21
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Perhatikan tiga hal yang disebutkan dalam ayat tersebut:
sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Ada ketenteraman. Ada cinta. Ada kasih sayang.
Artinya, hubungan suami istri bukan hanya tentang siapa yang paling benar atau siapa yang paling banyak berkorban. Ada ketenangan yang perlu dibangun bersama. Ada cinta yang perlu dirawat. Dan ada kasih sayang yang perlu dijaga, terutama ketika keadaan tidak sedang mudah.
Rumah Tangga Tidak Dibangun oleh Dua Orang yang Sempurna
Kadang kita melihat kehidupan rumah tangga orang lain melalui media sosial. Ada foto pasangan yang terlihat romantis. Ada keluarga yang terlihat bahagia. Ada rumah yang selalu tampak bersih. Ada suami yang terlihat sangat perhatian.
Tanpa sadar, kita membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak tahu bagaimana mereka menyelesaikan masalah.
Kita tidak tahu berapa banyak kesabaran yang dibutuhkan untuk mempertahankan rumah tangga. Dan kita juga tidak tahu ujian apa yang mereka simpan.
Maka, jangan menjadikan rumah tangga orang lain sebagai standar untuk menilai rumah tangga sendiri. Rumah tangga kita memiliki perjalanan yang Allah tetapkan dengan cara yang berbeda.
Yang perlu kita tanyakan bukan:
"Mengapa rumah tanggaku tidak seperti mereka?"
Tetapi:
"Apakah hari ini aku sudah berusaha menjadi pasangan yang lebih baik di hadapan Allah?"
Rumah Tangga Islami Dimulai dari Ketakwaan
Kita sering membicarakan komunikasi, romantisme, keuangan, parenting, pembagian pekerjaan rumah, dan berbagai hal lainnya ketika membahas rumah tangga.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu fondasi yang tidak boleh dilupakan:
Ketakwaan kepada Allah.
Sebab ketika suami dan istri sama-sama menyadari bahwa Allah melihat setiap perkataan dan perbuatan mereka, cara mereka memperlakukan satu sama lain pun seharusnya berubah.
Suami tidak hanya berbuat baik karena ingin dipuji istrinya. Istri tidak hanya bersikap baik ketika suaminya sedang menyenangkan. Keduanya berusaha melakukan kebaikan karena ingin mendapatkan ridha Allah. Inilah yang membuat rumah tangga memiliki fondasi yang lebih kuat.
Suami dan Istri Sama-Sama Belajar Berbuat Baik
Allah Ta'ala berfirman kepada para suami:
"...dan bergaullah dengan mereka secara patut." (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bersama istri harus dibangun dengan ma'ruf, yaitu perlakuan yang baik dan patut.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya." (HR. Tirmidzi no. 1162; Abu Dawud dan Ahmad)
Ini menarik.
Ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat ketika ia berada di masjid, di tempat kerja, atau di hadapan banyak orang.
Bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya juga menjadi bagian penting dari akhlaknya. Karena keluarga adalah orang-orang yang paling sering melihat diri kita apa adanya.
Mereka melihat ketika kita lelah. Mereka melihat ketika kita marah. Mereka mengetahui kebiasaan kita yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Maka, berbuat baik kepada keluarga justru membutuhkan perjuangan yang nyata.
Istri Tidak Harus Sempurna untuk Menjadi Istri yang Baik
Begitu pula seorang istri. Menjadi istri yang baik bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti selalu tersenyum. Bukan berarti tidak boleh memiliki pendapat.
Bukan berarti harus selalu bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangga tanpa mengeluh. Seorang istri juga manusia. Ia bisa lelah. Ia bisa salah. Ia bisa membutuhkan waktu untuk beristirahat. Ia bisa membutuhkan nasihat dan dukungan.
Karena itu, membangun rumah tangga Islami bukan tentang mencari pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Tetapi tentang dua orang yang mau belajar memperbaiki kesalahan ketika 6.
Ketika Suami dan Istri Berbeda Pendapat
Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan manusia. Suami mungkin memiliki cara berpikir yang berbeda. Istri mungkin melihat sebuah persoalan dari sudut pandang lain. Masalahnya bukan selalu pada adanya perbedaan.
Yang sering menjadi masalah adalah cara kita menyikapi perbedaan tersebut.Apakah harus selalu ada yang menang? Apakah setiap perbedaan harus berakhir dengan saling menyalahkan? Apakah perkataan yang menyakitkan boleh dikeluarkan hanya karena sedang marah? &5Di sinilah akhlak diuji.
Rasulullah ï·º mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak yang baik, dan beliau menyebut orang yang paling baik adalah yang paling baik kepada istrinya. Maka, ketika sedang berbeda pendapat, mungkin kita perlu bertanya:
"Apakah cara bicaraku sudah mencerminkan akhlak seorang muslim?"
Jangan Menunggu Rumah Tangga Bermasalah untuk Kembali kepada Allah
Sering kali manusia baru mengingat Allah ketika sedang menghadapi kesulitan. Ketika ekonomi sedang berat, kita banyak berdoa. Ketika rumah tangga bermasalah, kita mulai memperbanyak ibadah. Ketika anak-anak menghadapi masalah, kita kembali memohon pertolongan Allah.
Padahal seharusnya hubungan dengan Allah dibangun sebelum ujian datang.
- Shalat bersama.
- Saling mengingatkan dalam kebaikan.
- Membaca Al-Qur'an.
- Berdoa untuk pasangan.
- Mengajarkan anak tentang Allah.
- Membiasakan rumah dengan dzikir dan ibadah.
Hal-hal sederhana ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat menjadi bagian dari suasana rumah yang mengingatkan penghuninya kepada Allah.
Jangan Hanya Menuntut Pasangan untuk Berubah
Ini mungkin bagian yang paling sulit. Ketika rumah tangga menghadapi masalah, kita sering lebih mudah melihat kesalahan pasangan daripada kesalahan sendiri.
"Seandainya suamiku lebih pengertian..."
"Seandainya istriku lebih sabar..."
"Seandainya dia mau berubah..."
Padahal kita tidak memiliki kendali penuh atas perubahan orang lain. Yang bisa kita mulai adalah diri sendiri.
Bukan berarti kita harus membiarkan kesalahan atau menerima perlakuan yang zalim.
Tetapi dalam persoalan sehari-hari, kita bisa mulai bertanya:
"Apa yang bisa aku perbaiki dari diriku?"
Mungkin cara berbicara.
Mungkin cara menyampaikan kritik.
Mungkin kebiasaan menyimpan masalah terlalu lama.
Mungkin terlalu mudah membandingkan pasangan.
Mungkin kurang memberikan apresiasi.
Perubahan kecil dari satu orang terkadang menjadi awal perubahan suasana seluruh rumah.
Rumah Tangga Juga Tempat Belajar Sabar
Sabar bukan berarti selalu diam.
Sabar juga bukan berarti tidak boleh merasa sedih.
Sabar berarti berusaha tetap berada dalam ketaatan kepada Allah ketika menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai.
Dan pernikahan memberikan banyak kesempatan untuk belajar sabar.
Sabar ketika pasangan memiliki kebiasaan yang berbeda.
Sabar ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Sabar ketika keadaan ekonomi sedang sulit.
Sabar dalam mendidik anak.
Sabar dalam menjalani hari-hari yang terkadang terasa monoton.
Tetapi di balik semua itu, ada kesempatan untuk mendapatkan pahala jika kita menghadapinya dengan cara yang Allah ridai.
Ketika Rumah Tangga Tidak Baik-Baik Saja
Ada kalanya masalah rumah tangga bukan sekadar perbedaan kecil.
Ada persoalan yang membutuhkan bantuan orang lain.
Ada konflik yang sudah terlalu berat untuk diselesaikan berdua.
Dalam kondisi seperti ini, jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Carilah jalan keluar yang benar.
Mintalah nasihat kepada orang yang berilmu dansendiria Libatkan keluarga atau pihak yang tepat ketika memang diperlukan. Dan jika terdapat kekerasan, kezaliman, atau bahaya, mencari perlindungan dan bantuan bukan berarti gagal mempertahankan rumah tangga.
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk membiarkan dirinya dizalimi. Karena itu, pembahasan tentang rumah tangga Islami harus selalu ditempatkan dalam prinsip keadilan, kebaikan, dan ketakwaan.
Rumah Tangga yang Baik Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Kita tidak harus menunggu menjadi pasangan yang sempurna untuk memperbaiki rumah tangga. Mulailah dari hal sederhana.
Mengucapkan terima kasih.
Meminta maaf ketika salah.
Tidak membicarakan pasangan di belakangnya dengan keburukan. Menyediakan waktu untuk berbicara. Mendoakan pasangan tanpa sepengetahuannya.
Membantu ketika pasangan sedang lelah.
Menjaga rahasia rumah tangga.
Tidak mempermalukan pasangan di depan anak.
Dan yang tidak kalah penting:
belajar mengingat Allah bersama-sama.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Namun justru dari kebiasaan kecil itulah suasana rumah dibentuk.
Pada Akhirnya, Rumah Adalah Tempat Kita Belajar Menjadi Hamba
Rumah tangga bukan sekadar tempat pulang setelah bekerja. Bukan sekadar tempat membesarkan anak. Bukan pula sekadar tempat memenuhi kebutuhan hidup. Rumah bisa menjadi tempat kita belajar banyak hal tentang penghambaan kepada Allah. Belajar sabar. Belajar memaafkan. Belajar menahan lisan. Belajar bersyukur. Belajar bertanggung jawab. Belajar mencintai karena Allah. Dan belajar bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berarti hidup tanpa masalah.
Kadang kebahagiaan itu hadir ketika dua orang yang sedang sama-sama lelah tetap memilih untuk saling memperlakukan dengan baik.
Penutup: Kita Tidak Perlu Menjadi Pasangan yang Sempurna
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari resep rumah tangga yang sempurna. Padahal Allah tidak meminta kita menjadi manusia tanpa kesalahan.
Yang perlu kita lakukan adalah terus belajar menjadi hamba yang lebih baik. Suami belajar menjadi suami yang bertakwa. Istri belajar menjadi istri yang bertakwa. Keduanya belajar memperlakukan satu sama lain dengan baik.
Karena rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh dua manusia yang sempurna. Ia dibangun oleh dua manusia yang sama-sama mau kembali kepada Allah setiap kali tersesat.
Maka, jika hari ini rumah tangga kita belum seperti yang kita bayangkan, jangan buru-buru merasa gagal. Mungkin kita hanya sedang berada dalam sebuah proses.
Proses belajar mencintai.
Proses belajar memahami.
Proses belajar memaafkan.
Dan yang paling penting, proses belajar menjadi pasangan yang lebih bertakwa.
Semoga Allah menjadikan rumah kita tempat tumbuhnya ketenangan, cinta, kasih sayang, dan ketakwaan. Aamiin.
Renungan untuk Suami Istri
Sebelum tidur malam ini, coba tanyakan kepada diri sendiri:
"Selama ini aku lebih sibuk meminta pasanganku berubah, atau berusaha memperbaiki diriku sendiri?"
Tidak perlu langsung menjawabnya dengan sempurna.
Cukup renungkan.
Karena mungkin perubahan kecil yang Allah inginkan dari rumah tangga kita hari ini… dimulai dari diri kita sendiri.
FAQ: Rumah Tangga Islami
Apa yang dimaksud rumah tangga Islami?
Rumah tangga Islami adalah kehidupan keluarga yang berusaha menjalankan kehidupan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan menjaga ketakwaan, akhlak, hak dan kewajiban, serta memperlakukan anggota keluarga dengan baik.
Apa dasar rumah tangga dalam Al-Qur'an?
Salah satu dasar yang sangat jelas terdapat dalam QS. Ar-Rum ayat 21, yaitu pernikahan menjadi tempat mendapatkan ketenteraman dan Allah menjadikan di antara pasangan rasa cinta dan kasih sayang.
Apakah rumah tangga Islami berarti tidak boleh bertengkar?
Tidak. Perbedaan dan konflik dapat terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Yang penting adalah bagaimana pasangan menyelesaikannya dengan cara yang tidak melanggar syariat, menjaga akhlak, dan berusaha kembali kepada kebenaran.
Bagaimana memulai membangun rumah tangga Islami?
Mulailah dari hal sederhana: memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga shalat, memperbaiki komunikasi, menjaga lisan, menunaikan hak pasangan, saling membantu dalam kebaikan, dan belajar memaafkan.
Apakah istri harus selalu mengalah dalam rumah tangga?
Tidak tepat menjadikan "istri harus selalu mengalah" sebagai prinsip umum. Islam mengajarkan kehidupan bersama dengan cara yang ma'ruf, keadilan, dan akhlak yang baik. QS. An-Nisa: 19 memerintahkan suami untuk mempergauli istri dengan cara yang patut.


Posting Komentar