Cara Membiasakan Anak Murajaah Al-Qur’an di Rumah

murajaah Al-Qur’an di rumah, cara mengajarkan anak murajaah, tips murajaah hafalan Al-Qur’an anak, jadwal murajaah anak, hafalan Al-Qur’an anak

Sahabat Umma sebagai orang tua, kita tentu ada keinginan agar anak dekat dengan Al-Qur’an. Bukan hanya bisa membaca, tetapi juga memiliki hafalan yang terus terjaga dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupannya.

Namun, pada praktiknya, membiasakan anak murajaah Al-Qur’an di rumah tidak selalu mudah.Ada hari ketika anak semangat menghafal. Ada hari ketika baru membuka Al-Qur’an sudah mengeluh bosan. Belum lagi jika di rumah ada beberapa anak dengan usia dan aktivitas yang berbeda.

Kadang ibu sendiri sudah lelah dengan pekerjaan rumah, mendampingi anak sekolah, memasak, membereskan rumah, dan berbagai urusan lainnya.

Akhirnya muncul pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya cara membiasakan anak murajaah Al-Qur’an tanpa membuat rumah terasa seperti tempat les hafalan?”

Jawabannya bukan dengan membuat target yang semakin berat. Justru kita perlu membangun kebiasaan kecil yang bisa dilakukan terus-menerus.

Apa Itu Murajaah Al-Qur’an?

Murajaah berarti mengulang kembali hafalan Al-Qur’an agar hafalan yang sudah dimiliki tetap terjaga. Menghafal dan murajaah adalah dua hal yang saling berkaitan. Anak yang sudah menghafal beberapa surat tetap membutuhkan pengulangan secara rutin karena hafalan dapat terlupa jika jarang diulang.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar hafalan Al-Qur’an terus dijaga. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menggambarkan hafalan Al-Qur’an seperti unta yang terikat. Jika terus dijaga, ia akan tetap ada, tetapi jika dilepaskan, ia dapat pergi.

Pesannya sederhana: hafalan membutuhkan penjagaan.
Karena itu, murajaah sebaiknya tidak dianggap sebagai hukuman atau pekerjaan tambahan bagi anak. Murajaah adalah bagian dari proses membersamai anak dengan Al-Qur’an.

Jangan Menunggu Anak Rajin Murajaah

Ini mungkin bagian yang paling sulit diterapkan.
Kita sering berpikir:

“Nanti kalau anak sudah rajin, baru dibuat jadwal murajaah.”

Padahal kebiasaan justru terbentuk karena dilakukan berulang-ulang. Anak mungkin belum memiliki kesadaran untuk mengatakan, “Hari ini saya harus murajaah.”

Itulah sebabnya orang tua perlu membantu membangun rutinitas tersebut. Tidak harus langsung satu jam setiap hari.

Lima sampai sepuluh menit yang dilakukan secara konsisten jauh lebih realistis daripada satu jam tetapi hanya bertahan beberapa hari.

Allah berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan berarti kita boleh berhenti memberikan pendidikan kepada anak. Justru orang tua perlu memahami kemampuan dan kondisi anak sehingga target yang diberikan tidak menjadi beban yang berlebihan.

1. Mulai dari Hafalan yang Sudah Dikuasai

Kesalahan yang sering terjadi adalah setiap sesi murajaah selalu dimulai dari hafalan yang banyak. Padahal anak bisa merasa kewalahan. -Cobalah membagi hafalan menjadi beberapa bagian.

Misalnya anak memiliki hafalan:

- Al-Fatihah
- An-Nas
- Al-Falaq
- Al-Ikhlas
- Al-Lahab
- An-Nashr

Hari ini cukup mengulang tiga surat.
Besok tiga surat berikutnya. Jika anak masih kecil, bahkan satu atau dua surat dalam satu waktu sudah cukup.

Tujuannya bukan mengejar jumlah sebanyak-banyaknya, tetapi menjaga agar anak terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an.

2. Masukkan Murajaah ke Rutinitas yang Sudah Ada


Tidak semua keluarga memiliki waktu khusus yang panjang. Karena itu, jangan selalu membuat aktivitas baru.

Lebih mudah jika murajaah ditempelkan pada kegiatan yang sudah menjadi rutinitas.

Misalnya: Setelah Subuh → murajaah 5–10 menit atau Sebelum tidur → membaca hafalan bersama
atau

Saat perjalanan menggunakan kendaraan → anak menyetorkan hafalan

Dengan cara seperti ini, murajaah perlahan menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Bukan aktivitas yang terasa asing.

3. Tidak Harus Semua Anak Murajaah dengan Cara yang Sama

Ini penting terutama untuk keluarga yang memiliki beberapa anak. &Anak usia tiga tahun tentu tidak bisa disamakan dengan anak usia sekolah.

Anak kecil mungkin cukup mendengarkan dan mengikuti bacaan.

Anak TK bisa mengulang surat pendek bersama ibu.

Anak SD dapat mulai menyetorkan hafalannya.

Sementara anak yang lebih besar bisa diberi tanggung jawab untuk murajaah secara mandiri.

Jadi jangan membuat satu standar yang sama untuk semua anak.

Targetnya boleh berbeda, tetapi suasana mencintai Al-Qur’annya tetap sama.

4. Gunakan Metode “Sedikit tetapi Sering”

Misalnya biasanya ibu membuat target:

“Hari ini harus murajaah 10 surat.”

Cobalah ubah menjadi:

“Hari ini kita ulang 2–3 surat dulu.”

Setelah selesai, anak boleh bermain kembali.

Besok diulang lagi.

Jika dilakukan terus-menerus, jumlah hafalan yang terjaga akan semakin banyak.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Prinsip ini sangat relevan dalam membersamai anak.

Kita tidak sedang mencari anak yang sehari mampu menghafal banyak, kemudian berhenti karena kelelahan.

Kita ingin membangun anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an sedikit demi sedikit.

5. Jadikan Orang Tua sebagai Teman Murajaah

Anak terkadang tidak membutuhkan guru tambahan.

Mereka hanya membutuhkan ibu atau ayah yang mau duduk di sampingnya.

Ibu bisa mengatakan:

“Yuk, kita baca sama-sama.”

Bukan:

“Ayo cepat hafalan! Jangan main terus!”

Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi suasananya sangat berbeda.

Ketika orang tua ikut membaca, anak merasa bahwa Al-Qur’an bukan hanya kewajibannya.

Al-Qur’an adalah bagian dari kehidupan keluarga.

Orang tua juga menjadi teladan.

Anak melihat ibu membaca Al-Qur’an.

Anak melihat ayah murajaah. Lama-kelamaan aktivitas tersebut menjadi sesuatu yang familiar bagi mereka.

6. Jangan Jadikan Kesalahan sebagai Alasan untuk Memarahi Anak

Ketika anak salah membaca atau lupa hafalan, tentu perlu diperbaiki.

Tetapi cara kita memperbaikinya juga penting.

Misalnya anak lupa ayat berikutnya.

Daripada langsung mengatakan:

“Kan sudah pernah diajarkan! Kok lupa lagi?”

Lebih baik bantu dengan perlahan:

“Tidak apa-apa, kita ulang dari ayat sebelumnya.”

Kemudian baca bersama.

Anak perlu memahami bahwa lupa bukan berarti dirinya bodoh.
Lupa adalah bagian dari proses belajar.
Tugas orang tua adalah membantu anak kembali mengingatnya.

7. Buat Target Murajaah yang Realistis

Tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Ada ibu yang bisa mendampingi anak setiap pagi. Ada ibu yang harus bekerja. Ada keluarga dengan banyak anak. Ada anak yang sekolah seharian.Ada pula keluarga yang aktivitasnya sangat padat.

Maka jangan membandingkan jadwal keluarga kita dengan keluarga lain.
Buatlah target berdasarkan kondisi nyata.

Contohnya:

Keluarga dengan waktu sangat terbatas. 

Murajaah 5 menit setiap hari. Keluarga dengan waktu lebih longgar Murajaah 10–15 menit setiap pagi dan malam. Anak dengan hafalan cukup banyak

Gunakan sistem pembagian hafalan.

Misalnya:
Senin: Juz/surat bagian pertama
Selasa: bagian kedua
Rabu: bagian ketiga
Kamis: bagian keempat
Jumat: hafalan yang masih lemah
Sabtu: murajaah bersama
Ahad: murajaah ringan

Tidak perlu sempurna.
Yang penting bisa dijalankan oleh keluarga.

8. Gunakan Shalat sebagai Waktu Murajaah

Ini salah satu cara yang sangat alami. Anak dapat menggunakan surat-surat yang sudah dihafalnya ketika shalat.

Dengan demikian, hafalan tidak hanya tersimpan di sesi belajar, tetapi digunakan dalam ibadah.

Tentu orang tua perlu menyesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Untuk anak yang sudah belajar shalat, biasakan menggunakan surat yang sedang dimurajaah.

Misalnya minggu ini sedang mengulang Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Ketiga surat tersebut dapat dibaca dalam shalat.

Dengan begitu anak mendapatkan pengalaman bahwa hafalan Al-Qur’an bukan sekadar untuk mendapatkan nilai atau pujian, tetapi untuk digunakan dalam ibadah.

9. Jangan Terlalu Banyak Memberikan Reward

Reward boleh digunakan sebagai penyemangat, tetapi jangan sampai anak hanya mau murajaah jika mendapatkan hadiah.

Yang lebih penting adalah membangun kecintaan kepada Al-Qur’an.

Pujian sederhana sebenarnya sudah cukup.

Misalnya:
“Masya Allah, hari ini hafalannya lebih lancar.”

atau:

"Umma senang kamu mau mengulang lagi meskipun tadi sempat lupa.”»

Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha mereka dihargai.

10. Ketika Anak Sedang Tidak Mau Murajaah

Akan ada hari seperti itu. Jangan langsung merasa bahwa semua kebiasaan yang dibangun selama ini gagal. Anak bisa lelah. Anak bisa mengantuk. Anak bisa sedang ingin bermain. Orang tua juga bisa sedang kelelahan.

Dalam kondisi seperti ini, turunkan target.
Biasanya sepuluh menit?
Hari ini cukup dua menit.
Biasanya tiga surat?
Hari ini satu surat saja.

Bahkan jika benar-benar tidak memungkinkan, jangan menjadikan satu hari yang berantakan sebagai alasan untuk berhenti selamanya.

Besok mulai lagi. Inilah pentingnya konsistensi.
murajaah Al-Qur’an di rumah, cara mengajarkan anak murajaah, tips murajaah hafalan Al-Qur’an anak, jadwal murajaah anak, hafalan Al-Qur’an anak

Murajaah Bukan Perlombaan

Sebagai orang tua, kita tentu bahagia melihat anak mampu menghafal banyak surat. Tetapi jangan sampai hafalan anak menjadi ajang membandingkan:

“Anak tetangga sudah hafal sekian juz.”
“Temannya sudah hafal banyak.”
“Kok kamu baru segini?”
Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, lingkungan, dan proses yang berbeda.

Tugas kita bukan membuat anak terlihat paling hebat.
Tugas kita adalah membantu mereka mengenal, mencintai, membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an sesuai kemampuan mereka.

Allah berfirman:
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”(QS. Al-Qamar: 17)

Ayat ini memberi harapan bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang Allah mudahkan untuk dipelajari.

Maka sebagai orang tua, kita perlu menghadirkan proses yang juga terasa mudah dan dekat bagi anak.

Yang Penting Bukan Jadwal yang Sempurna

Pada akhirnya, cara membiasakan anak murajaah Al-Qur’an di rumah bukan tentang membuat jadwal yang sangat ketat.

Bukan pula tentang berapa banyak halaman yang berhasil diulang setiap hari.

Yang paling penting adalah bagaimana Al-Qur’an menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Hari ini mungkin hanya lima menit. Besok mungkin sepuluh menit.
Ada hari ketika anak lancar. Ada hari ketika hafalannya banyak lupa. Ada hari ketika ibu sabar. Ada pula hari ketika ibu sendiri sedang lelah. Tidak apa-apa.

Kita sedang membangun kebiasaan jangka panjang. Semoga rumah kita menjadi tempat anak-anak mengenal Al-Qur’an dengan rasa cinta, bukan hanya karena tuntutan.

Karena pada akhirnya, kita tidak hanya ingin anak hafal Al-Qur’an.

Kita berharap mereka tumbuh menjadi anak yang dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, dan menjadikannya petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Yuk sharing Sahabat Umma, metode apa yang diterapkan untuk murajaah anak? Semoga bermanfaat. Jangan lupa baca juga Apa Sih Parenting Sunnah ya agar makin luas wawasan kenapa kita harus mendidik anak berdasarkan quran dan sunnah. 
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Cari artikel