Ganti Judul dan ALt sendiri

Wujudkan Indonesia Bebas Kusta Bersama Sasakawa Heath Foundation dan NLR

Sasakawa Heath Foundation dan Kusta di Indonesia

Kusta? Sebuah kata yang sering Umma dengar tapi Umma tak pernah mengenal lebih jauh. Ibarat iklan seperti itulah kusta bagi Umma. Lewat sekilas saja tanpa penjelasan yang jelas. Tapi itu dulu, setahun ke belakang sejak Umma mulai aktif nge-blog, banyak sekali Umma teredukasi oleh teman-teman blogger. Sampai akhirnya Umma menemukan tontonan yang lebih teredukasi lagi melalui YouTube. Sejak itu Umma mulai yakin Indonesia bisa bebas kusta jika adanya edukasi merata dan penanganan serius. 

Mengenal Kusta dan Kasusnya di Indonesia

Kusta dalam KBBI ditulis kus·ta adalah penyakit menahun yang menyerang kulit dan saraf, yang secara perlahan-lahan menyebabkan kerusakan pada anggota tubuh; lepra. Bagi orang awam (seperti Umma sebelum teredukasi), kusta itu penyakit kulit yang menular dan biasa dialami di daerah pedalaman dan pemukiman yang kumuh. 

Tetapi ternyata pemahaman Umma dan orang awam lainnya selama ini salah. Kusta bisa mengancam siapa saja dan bisa terjadi dimana saja. Selama ada faktor pendukung yang menyebabkan seorang terkena kusta. 

Seperti kita ketahui kusta atau yang dikenal juga dengan lepra adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat mempengaruhi kulit, saraf dan saluran pernapasan serta menyebabkan kerusakan saraf. Kerusakan tersebut dapat mengakibatkan kehilangan sensasi (mati rasa) atau fungsi pada bagian tubuh tertentu. 

Tanda-tanda penyakit ini adalah muncul bercak pucat, kemerahan, atau kecoklatan pada kulit yang kehilangan sensasi, adanya benjolan, rusaknya saraf, luka pada kulit dan pembengkakan saraf. Namun tanda ini bisa berbeda pada setiap penderita. Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ini bisa menyebabkan disabilitas seperti kebutaan atau cacat fisik lainnya. 

Perlu juga diketahui bahwa penyakit ini  dapat menular, tetapi penularannya tidak secepat atau seefisien beberapa penyakit menular lainnya. Penularan kusta umumnya melibatkan kontak dekat dan berlangsung secara langsung melalui tetesan pernapasan dari orang yang sudah terinfeksi. Faktor-faktor yang memengaruhi penularan kusta meliputi sistem kekebalan tubuh individu, lamanya paparan, dan tingkat infeksi penderita.

Meskipun kusta dapat diobati dengan antibiotik, stigma sosial terhadap penyakit ini masih menjadi masalah di beberapa daerah. 

Yup selain masalah kesehatan, masalah lain yang dihadapi oleh penderita penyakit ini adalah stigma negatif masyarakat yang membuat penderitanya terpuruk dan tidak mau mengobati penyakitnya. Kurangnya pengetahuan tentang cara penularan kusta dan efektivitas pengobatan  menyebabkan ketidakpahaman masyarakat yang memicu ketakutan dan stigma terhadap penderita. Begitupun mitos yang berkembang seputar kusta, seperti keyakinan bahwa penyakit ini sangat menular atau merupakan kutukan, dapat menyebabkan prasangka terhadap penderita. 

Stigma lainnya tentang penderita kista biasanya memiliki kondisi kehidupan yang kurang baik dan tinggal di daerah miskin. Begitupun deformitas fisik yang mungkin muncul pada penderita penyakit ini dapat memicu penolakan karena persepsi konvensional tentang kecantikan dan normalitas. Realita inilah yang terjadi di negara kita Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi peringkat ketiga penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazil. Tercatat di 2021, jumlah penderita kusta di Indonesia sekitar 140.000 pasien. Meskipun jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, lambannya penemuan kasus baru menyebabkan banyak penderita kusta terlambat dalam pengobatannya. Semakin Umma telusuri tentang penyakit ini Umma mulai paham betapa pentingnya peran setiap orang dalam mewujudkan Indonesia Bebas Kusta, termasuk Umma sendiri. 

Ruang Publik Radio KBR Makin Membuka Mata Tentang Kusta

Yup, seperti yang Umma ceritakan di awal, sejak menonton YouTube Talk show Sasakawa Health Foundation dan Kusta di Indonesia di YouTube Chanel Berita KBR. Disinilah Umma mulai terbuka wawasan tentang kusta di Indonesia. Ternyata sudah ada yang bergerak mewujudkan Indonesia Bebas Kusta melalui berbagai program. 

Talkshow yang dipandu oleh Host KBR Debora Tanya menghadirkan tiga pembicara. Pembicara pertama adalah Ms. Aya Tobiki selaku Chief Program Officer Hasen Disease Program Sasakawa Health Foundation. Kedua Bapak Asken Sinaga selaku Direktur Eksekutif NLR Indonesia dan pembicara ketiga adalah Mas Ardi Yansyah selaku OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kuorang yang pernah mengalami kust)mba. Semua narasumber ini berada di garda terdepan pencegahan penyakit kusta. 

Mengenal Tentang Sasakawa Health Foundation (SHF)

Pemaparan pertama disampaikan Ms. Aya Tobiki yang datang langsung dari Jepang. Ms Aya mengenalkan Sasakawa Health Foundation, organisasi NGO Jepang yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat dan salah satunya kusta atau leprosi. NGO ini berdiri sejak Mei 1974 dan fokus pada 3 pilar utama. Pertama adalah mencegah penyebaran penyakit. Kedua adalah menghilangkan diskriminasi. Ketiga adalah memelihara sejarah. 

Ms Aya menjelaskan bahwa visi dan misi dari Sasakawa Health Foundation Visinya adalah semua manusia berhak sehat dan bermartabat lebih baik. Sementara misi SHF adalah mendukung penuh upaya peningkatan kesehatan manusia. Visi dan misi ini dinyatakan dan dibuktikan dalam berbagai program dan kegiatan yang telah dilakukan di Jepang sendiri dan juga di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Ms. Aya Tobiki menceritakan selama di Indonesia dirinya telah mengunjungi tiga tempat berbeda dalam kaitannya menangani penyakit kusta, yakni Pasuruan, Indramayu, dan Cirebon. Saat kunjungan ke Pasuruan, tepatnya di Puskesmas Nguling, Ms. Aya Tobiki menceritakan bagaimana semua pihak bekerja sama dalam pencegahan penyakit kusta. Salah satunya yang dilakukan oleh Tim PKK melalui kegiatan senam bersama dengan tema kusta. Kegiatan senam ini sangat membantu penyebaran informasi yang benar dan tepat mengenai penyakit kusta. 

Sementara itu saat Ms Aya berkunjung ke Indramayu, ia melihat adanya kerjasama yang baik antara Dinas Kesehatan dan pihak terkait. Selain itu juga dibentuknya peer conselor, yaitu sahabat sebaya yang bertugas memotivasi para penderita kusta agar mental merasa tetap terjaga. Karena faktanya saat ini masih banyak penderita kusta yang tidak percaya diri dan terpuruk karena respon masyarakat awam yang menjauhi mereka.  

Kemudian saat Ms Aya Cirebon, dirinya melihat kreativitas dari penderita kusta yaitu kreasi kerajinan tangan. Ini menandakan penderita kusta mulai bangkit dan tidak terpengaruh oleh stigma negatif di masyarakat. 

Terakhir, Ms Aya mengatakan bahwa Sasakawa Health Foundation akan terus berusaha sedekat mungkin dengan pasien kusta. SHF juga terus akan memotivasi pasien agar bisa sembuh dengan terapi yang sudah dijalankan. Begitu juga bagi penderita yang baru terkena kusta, maka akan dibantu rujukan yang lebih cepat dan tepat.

NLR Indonesia Untuk Indonesia Bebas Kusta 

Selanjutnya Bapak Asken Wijaya selaku Direktur Eksekutif NLR Indonesia menjelaskan dalam kaitannya dengan pencegahan penyakit kusta, NLR Indonesia melihat gap pencegahan kusta yang belum tersentuh oleh pemerintah. 

"Gap inilah yang akan dibantu oleh NLR Indonesia," sebut Bapak Asken Wijaya dalam talkshownya.

Bapak Asken menjelaskan sebenarnya, negara sudah memiliki pedoman dan program terkait penanganan penyakit kusta dan NLR Indonesia mendukung berbagai program tersebut melalui pendekatan inovasi. Bentuk inovasi yang dilakukan oleh NLR Indonesia adalah peer conseling project. NLR Indonesia  melakukan training terhadap OYPMK. OYPMK ini nantinya yang akan menjadi konselor bagi penderita kusta. Mereka bisa berbagi pengalaman dan motivasi untuk penderita yang belum sembuh. 

Saat ini kata Bapak Asken, NLR juga melakukan awareness rising ke masyarakat melalui sosialisasi medsos dan konvensional. NLR Indonesia juga melakukan advokasi dan jejaring bersama pihak lain terutama yang fokus pada penyandang disabilitas, lembaga riset, dan kelompok pemuda. 

NLR Indonesia berharap melalui program tersebut bisa membuat eleminasi penyakit kusta berlangsung maksimal karena penyakit kusta tidak bisa dilakukan sendiri harus ada kerjasama semua pihak. 

Lebih lanjut, NLR Indonesia adalah yayasan nirlaba yang bekerja untuk menanggulangi kusta dan konsekuensinya. NLR Indonesia melanjutkan kerja-kerja penanganan kusta yang telah dilakukan NLR International di Indonesia sejak 1978.

NLR sendiri bekerja sama atau bermitra dengan siapa saja yang memiliki nilai, niat dan semangat yang sama dalam kerangka sistem dan budaya di Indonesia untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kusta dan konsekuensinya.

Yayasan NLR Indonesia merupakan organisasi independen milik bangsa Indonesia dan merupakan anggota dari NLR Alliance di Belanda. Yayasan NLR Indonesia beraliansi dalam NLR Alliance bersama beberapa organisasi anggota dari 5 negara lainnya karena NLR memiliki visi dan komitmen yang sama, yaitu Hingga Kita Bebas dari Kusta (Until No Leprosy Remains).

Penderita Kusta Berdaya

Yang semakin membuat Umma terbuka wawasannya adalah kehadiran Mas Ardi Yansyah. Mas Ardi Yansyah yang seorang OYPMK menceritakan pernah mengalami berbagai hal selama menderita kusta bahkan sempat sempat terpuruk. Dirinya juga bercerita banyak orang yang menjauhinya terutama orang sekitar. Satu per satu teman-teman akrabnya mulai menjauhinya hingga membuatnya depresi. 

Tetapi dirinya bersyukur akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan sejak 2018. Mas Ardi Yansyah bercerita sejak bermitra dengan NLR Indonesia melalui Permata Bulukumba. Banyak hal yang membuka wawasannya. Banyak pemahaman medis dan non medis terkait penyakit kusta yang didapatkannya. 

Sejak itu, Ardi Yansyah sering menjadi narasumber dalam kaitannya pencegahan penyakit kusta, terutama di daerahnya. Dia mengaku sejak bermitra dengan NLR Indonesia banyak perubahan yang dia rasakan pada dirinya yang sebagai langsung maupun tidak langsung juga berdampak pula pada lingkungan di sekitarnya. Salah satunya adalah terbitnya peraturan desa (Perdes) pertama  di Sulawesi Selatan tentang pencegahan disabilitas akibat kusta. Perdes ini membuat pencegahan kusta di sebuah desa menjadi lebih baik.

Kolaborasi Sasakawa Heath Foundation, NLR Indonesia dan OYPMK: Sinergi Kita Semua

Di akhir sesi Ms Aya mengatakan akan terus mendukung program pemerintah untuk pemberantasan kusta dan stigma tentang penderita kusta di Indonesia. Begitupun dengan Bapak Asken juga optimis jika kolaborasi semua pihak akan mewujudkan Indonesia Bebas Kusta. 

Umma juga sangat ingat dengan closing statement dari ketiga pembicara yang membuat kita juga ternyata punya peran dalam mengedukasi semua orang tentang kusta. Berikut closing statement mereka: 

Ms Aya:  Orang dengan penyakit kusta juga berhak hidup seperti kita. Jangan diasingkan. 

Bapak Asken; Kita harus terus mendorong inklusi. Semua pihak harus saling bekerja sama.

Mas Ardi : "Melihat kusta dari perspektif berbeda dengan peduli dengan cara masing-masing. Mendengarkan edukasi dan menginformasikan kepada orang lain agar kusta tidak dianggap negatif. Ayo kita hapus stigma mulai dari diri sendiri. Penderita kusta tidak hanya butuh obat tapi butuh dukungan dari semua pihak'. 

Sejak menonton Talkshow tersebut, wawasan Umma semakin bertambah. Apalagi banyak lagi berita tentang kusta tersebut bisa di tonton di YouTube Chanel Berita KBR dan NLR Indonesia.  Umma yakin sinergi semua pihak bisa mewujudkan Indonesia Bebas Kusta. Program nyata Sasakawa Heath Foundation dan sinerginya bersama NLR Indonesia menjadi acuan bagi kita semua untuk berkontribusi. Apalagi edukasi harus merata agar penderita kusta bisa bangkit dan tidak terpuruk. Masyarakat awam harus diedukasi secara terus menerus. Yuk kita jadi bagian untuk Indonesia Bebas Kusta. 


Posting Komentar