Pernah nggak sih, lagi asyik jalan-jalan atau ke masjid tiba-tiba anak nangis kencang, dorong-dorong gerobak, bahkan sampai guling-guling di depan banyak orang? Rasanya langsung malu, panik, dan bingung harus ngapain.
Tenang, Sahabat Umma nggak sendirian kok. Umma sendiri pernah mengalami momen "tekanan sosial" seperti ini—saat anak tantrum di depan eskalator, sementara orang-orang menatap. Nangis di masjid karena dibangunin mau pulang, anak rebutan mainan dan makanan saat lagi dengar kajian, nangis di pasar minta sesuatu dan banyak lagi cerita lainnya. Tapi dari anak pertama hingga kelima, Umma jadi belajar banyak hal termasuk cara menghadapi anak-anak saat tantrum.
Di artikel kali ini, Umma akan ceritakan pengalaman Umma menghadapi anak tantrum di temptantrum agar mental kita kuat dan waras.
Mengapa Tantrum Sering Terjadi di Tempat Umum?
Tantrum di tempat umum seperti mall, supermarket, restoran, playground atau masjid itu sangat normal. Anak-anak masih belajar mengatur emosi, dan suasana ramai bisa bikin mereka kelelahan sensorik.
Beberapa pemicu umum anak-anak tantrum:
- Lapar atau haus
- Lelah setelah terlalu banyak aktivitas
- Keinginan yang nggak dikabulkan (mainan, camilan)
- Terlalu banyak stimulasi (suara keras, lampu terang, banyak orang)
Kalau nggak ditangani dengan tenang, tantrum bisa makin panjang dan bikin kita makin stress. Makanya, sangat perlu kita mengatur strategi agar tetap waras. Karena tantrum sangat normal terjadi pada setiap anak.
5 Cara Praktis Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum Versi Umma
1. Tetap Tenang
Anak meniru emosi kita. Kalau kita panik atau marah, mereka akan makin tidak tenang. Cara melakukan: Tarik napas dalam 3 kali. Ucapkan dalam hati: "Ini cuma tantrum, bukan karakter anak" Bicara dengan suara lembut.
Tips Umma: Umma selalu bawa "mantra pendek" di hati: "Tenang, ini cuma tantrum." Bijak, kan?ikap tenang ini bukan sekadar kata-kata manis, melainkan strategi psikologis yang benar-benar bekerja saat anak tantrum.
Anak kecil adalah spionase emosi—they meniru ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh kita. Kalau kita panik, anak akan makin takut dan rewel. Kalau kita marah, anak akan makin memberontak. Tapi kalau kita tenang, anak akan lebih cepat menenangkan diri karena sistem saraf mereka ikut terpengaruh oleh ketenangan kita.
Banyak ibu salah paham bahwa tantrum adalah pembangkangan atau kenakalan anak. Padahal, tantrum sebenarnya adalah kelelahan emosi. Anak bisa tantrum karena kelelahan sensorik dari terlalu banyak suara dan lampu, karena lapar atau haus, karena lelah fisik setelah terlalu aktif, atau karena belum punya kata-kata untuk mengekspresikan perasaan mereka. Ketika kita tetap tenang, kita memberi ruang bagi anak untuk memproses emosi mereka sendiri tanpa merasa dihakimi atau ditekan.
Tenang juga bukan berarti pasif atau diam saja. Tenang aktif artinya kita sadar dengan emosi sendiri, memilih respons yang bijak daripada bereaksi impulsif, dan tetap hadir untuk anak meski dalam situasi sulit. Misalnya, alih-alih berteriak "Nggak boleh nangis! Malu sekali!", kita bisa berkata dengan lembut "Ummi tahu kamu sedih. Ummi di sini. Ayo kita tarik napas bersama." Pilihan kata dan nada suara yang tenang jauh lebih efektif menenangkan anak.
Untuk melatih sikap tenang, Umma sarankan membuat mantra pendek pribadi seperti "Tenang, ini cuma tantrum" atau "Ini bukan serangan pribadi" yang diucapkan dalam hati saat tantrum dimulai. Mantra ini berfungsi seperti jimat psikologis yang membantu kita kembali ke pusat. Selain itu, tarik napas dalam tiga kali dengan teknik 4-7-8: tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, keluarkan 8 detik. Dalam 30 detik, detak jantung akan turun dan pikiran akan lebih jernih. Selain itu jangan lepas dari lantunan kata istigfar dan taawudz agar selalu terkontrol emosinya selalu terpaut dengan Allah.
2. Alihkan Perhatian
Anak kecil mudah teralihkan. Manfaatkan ini untuk mengalihkan fokus mereka dari tantrum. Cara melakukan: Tunjuk sesuatu yang menarik: "Lihat, ada burung!"
Ajak berhitung: "Ayo hitung mobil berwarna merah!"
Beri pilihan kecil: "Mau pegang tangan Ibu kiri atau kanan?"
Contoh nyata: Saat anak tantrum mau mainan, Umma alihkan dengan "Ayo lihat toko buku di lantai 2, ada buku cerita favorit kamu!" Atau biasa Umma akan ajak ke tempat sepi jika berada di masjid. Lalu mencoba mengalihkan atau mengajak bermain. Sambil mengamati apa yang anak inginkan.
3. Peluk & Validasi Emosi
Pelukan memberi rasa aman. Validasi emosi bikin anak merasa dipahami. Cara melakukan:
Peluk erat tapi tidak terlalu kencang
Ucapkan: "Umma tahu kamu sedih, Umma mengerti"
Jangan langsung bilang "Nggak boleh nangis"
Kata-kata ajaib Umma: "Umma sayang kamu. Nangis nggak masalah, Umma di sini."
Meskipun nyatanya tidak semulus prakteknya ya, tetap tenang, alihkan dan validasi emosinya perlahan.
4. Bawa ke Tempat Tenang
Kalau tantrum makin keras, bawa anak ke tempat yang lebih sepi. Cara melakukan:
Cari ruang laktasi atau kamar menyusui kalau sedang di mall. Pergilah ke salah satu sudut yang lebih sepi jika di masjid atau fasiltas lain yang tanpa ruangan. Bawa anak ke parkiran atau mobil jika perlu
Tips: Saya selalu cek lokasi ruang laktasi saat pertama kali masuk mall. Karena tantrum normal terjadi pada anak-anak meskipun tanpa rencana.
5. Bawa Keluar Jika Perlu
Kalau tantrum tidak mereda setelah 10–15 menit, tidak apa-apa membatalkan rencana dan pulang. Alasannya karena kesehatan mental anak lebih penting daripada rencana. Kita juga butuh istirahat. Ini bukan kegagalan, tapi pilihan sadar
Kenyataan Umma: Pernah Umma batalkan bayar belanjaan karena anak tantrum dan langsung pulang. Meskipun mengecewakan penjual tapi yang tenang anak dan kita. Buat apa kita tetap mempertahankan sesuatu yang kita tidak sanggup. Selain itu juga jadi pusat perhatian dan mengganggu banyak orang.
Tahapan yang bisa dilakukan saat Anak Tantrum di Tempat Umum
- Tarik napas 3 kali, tetap tenang
- Ucapkan: "Ibu ada di sini, Ibu sayang kamu"
- Alihkan perhatian dengan sesuatu yang menarik
- Peluk & validasi emosi anak
- Bawa ke tempat lebih tenang (ruang laktasi/sudut sepi)
- Jika tidak mereda, bawa pulang
- Selalu baca Istigfar dan taawudz di sela-sela menahan diri
Apakah Sahabat Umma pernah mengalami anak tantrum di tempat umum? Ceritakan di kolom komentar ya. Umma yakin setiap orang tua punya cerita unik saat menghadapi anak tantrum di tempat umum. Umma pribadi setelah menjalani dan menghadapi anak tantrum merasakan sekali perbedaan saat Umma juga tantrum dengan Umma lebih tenang.. Percayalah meskipun ini melalui proses tapi pilihlah opsi yang tetap tenang karena itu lebih baik.
![]() |
| Bisa jadi bahan renungan dari pengalaman pribadi bahwa tantrum tidak menyelesaikan masalah |
Percayalah tantrum anak pasti akan berakhir. Tapi kenangan akan orangtuanya yang ikut tantrum bahkan diikuti dengan main fisik akan membekas selama-lamanya. Jadi ingat tentang artikel Umma tentang dosa jariyah pengasuhan anak. Ingatlah menjadi orang tua itu butuh ilmu jadi tetaplah belajar. Begitupun dengan para calon orang-tua yang masih menunggu jodoh jangan tunggu berkeluarga dulu baru belajar. Tapi belajarlah menjadi orang tua yang berilmu. Semoga bermanfaat ya.



Pastinya pernah. Apalagi aku punya anak ADHD. tantangan banget tuh buat meredakan tantrumnya. Memang ibu yang tenang itu sudah jadi 80% solusi, sih
BalasHapusSebagai orang tua, kadang yang paling sulit justru mengelola emosi diri sendiri ketika anak sedang menangis atau mengamuk di tempat umum. Pengalaman yang dibagikan di sini terasa sangat relate dan menenangkan, karena mengingatkan bahwa tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak, bukan tanda kegagalan orang tua.
BalasHapusSetuju banget....kunci menenangkan anak tantrum kita harus tenang. Tapi kalau sama-sama dalam keadaan lelah itu chalenging banget Umma.
BalasHapusTips nya bermanfaat banget ini umma...dan bener sie kalo pas liat anak tantrum dan kita juga ikut emosi pasti keadaan makin panas,,,dan bener emang gak mudah tapi klo orangtua setidaknya bisa tenang dulu psti keadaan akan juh lebih baik ya um ;)
BalasHapusAlhamdulillah anak saya belum pernah tantrum
BalasHapusBeneran lho
Tapi justru kalau marah dia itu dieeemmm... Ini sih emang keturunan bapaknya begitu
Puasa bicara adalah jalan ninja mereka mengeluarkan emosi kali ya
Akhirnya ya saya balas diem aja lagi
Ntar kalo ada perlu mereka baru ngomong juga. Hahaha
Pernah di titipi anak kecil tapi dia tantrum, aku yang justru trauma umma, padahal udah bersikap tenang dan menangani sebaik mungkin... Sekarang kalo denger suara anak kecil nangis jerit-jerit rasanya tuh kayak langsung engap dada
BalasHapusSeingat saya, anak-anak saya jarang yang tantrum di ruang publik, kalaupun menangis, mudah ditenangkan. Memang kuncinya adalah ibu yang tenang. Kalau ibu tenang, anak akan ikut tenang dan bisa ambil jalan keluarnya setelahnya.
BalasHapusSemoga Allah merahmati para Ibu yang senantiasa mau belajar.
BalasHapusKarena pengasuhan ini adalah penanaman akhlak dan adab. Jadi penting sekali untuk senantiasa sabar. Namun kenyataannya pas sudah ada kejadian di depan mata, suka HIH sendiri gitu yaa..
Allahul musta'an.
Semoga dengan terus meminta kepada Allah, Allah lembutkan hati kita dan hati anak-anak untuk senantiasa berproses.
Menghadapi anak yang tantrum di tempat umum itu memang cukup membuat Ibu pusing ya dan bahkan mungkin ada yang malu juga ketika anaknya. Kalau dari teori sih memang ketika anak tantrum itu kita disarankan untuk membiarkan saja anaknya mengeluarkan emosinya. namun Kalau di tempat umum kayaknya akan lebih baik Kalau anaknya itu ditenangkan atau Diajak pulang sehingga tantrumnya tidak membuat orang terganggu.
BalasHapusNamanya aja anak anak ya, susah ditebak
BalasHapusKadang tantrum tiba tiba
Bahkan di tempat umum
Makanya ibu harus tahu cara menghadapinya ya
Pernah juga sih mengalami anak tantrum, tapi biasanya tidak sampai lama sudah bisa ditenangkan. Dan betul, kuncinya adalah Ibu yang tenang, dengan sikap tenang Ibu lebih bisa mengidentifikasi penyebab anak tantrum dan menemukan solusi menenangkan anaknya.
BalasHapusTipsnya manis Kak, bisa jadi inspirasi untuk para orangtua maupun yang masih single. Soalnya urusan per tantruman ini agak tricky, terlebih kalau di tempat umum, daku itu kerap kali melihat ada aja yang posting, sehingga pro-kontra muncul di komentar
BalasHapusSaya pernah mengalami ini, Umma. Saat anak sulung masih umur 4 tahun. Dia ngeyel pengin dibelikan tas Barbie yang di tahun 2008 harganya 400 ribu. Di jaman sekarang aja udah kerasa mahal, apalagi tahun itu. Nangis kejer dan gulung2 di lantai. Sudah dibujuk dan dirayu, dipeluk, tetap ga mempan. Balik kanan saya tinggal pulang. Masih nangis sih sambil ngikutin saya pulang. Dilihatin seluruh mall. Malu sih, tapi biar aja, daripada maksa masih jalan2 di mall malah gangguin semua orang. Sampai di rumah masih sesenggukan anaknya, belum bisa dibujuk. Setelah malam hari baru bisa tenang dan bisa dikasih tahu bahwa ada tas lain yang serupa namun harganya tidak semahal itu. Plus otomatis dalam memorinya tertanam ingatan bahwa ibunya jujur, memang tidak akan membelikan barang mahal. Tidak ya artinya tidak. Anak harus tahu batasan mana orangtua membolehkan. Harus disiplin, kuat mental di hadapan banyak orang tentunya yaa hehehee... Luar biasa banget rasanya pas mengalaminya dulu. Sekarang klo diceritakan ulang ke si kakak, kami berdua bisa ngakak bareng2. :))
BalasHapus